BANJARBARU – Pemerintah Kota Banjarbaru terus mematangkan pengembangan kawasan Aero City yang diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis bandara. Saat ini, proyek tersebut telah memasuki tahap lanjutan, baik dari sisi perencanaan maupun pengendalian pemanfaatan ruang.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Banjarbaru, Rahmah Khairita saat dikonfirmasi, Minggu (15/2) mengatakan kawasan Aero City telah didukung dokumen perencanaan yang komprehensif.
Dokumen tersebut meliputi masterplan, Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), hingga Peraturan Zonasi yang saat ini dalam proses penetapan.
“Dokumen-dokumen ini menjadi dasar pengaturan pemanfaatan ruang dan pelaksanaan pembangunan kawasan, sehingga pengembangan tidak berjalan tanpa arah,” ujarnya.
Menurut Rahmah, pengembangan Aero City tidak hanya berhenti pada tahap perencanaan. Sejumlah infrastruktur pendukung mulai dibenahi, terutama ruas jalan penunjang kawasan bandara dan koridor utama menuju Aero City.
Peningkatan akses konektivitas menuju kawasan bandara menjadi salah satu fokus awal pemerintah.
“Artinya, pengembangan Aero City tidak hanya di atas kertas, tetapi sudah mulai ditindaklanjuti secara bertahap di lapangan,” tambahnya.
Ia menjelaskan, konsep yang diusung adalah airport city, yakni menjadikan bandara tidak sekadar sebagai simpul transportasi, tetapi juga pusat aktivitas ekonomi yang terintegrasi.
Kawasan tersebut dirancang untuk mendukung kegiatan bisnis, logistik, industri, komersial, dan jasa.
Pengembangan Aero City mengusung prinsip airport-centric, kawasan campuran (mixed use), terintegrasi dengan transportasi publik, serta berbasis Transit Oriented Development (TOD).
Konsep ini diarahkan untuk membentuk kawasan perkotaan yang compact, efisien, dan saling terkoneksi.
Selain itu, aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian. Pemerintah memastikan ketersediaan ruang terbuka hijau tetap terjaga serta menyiapkan hunian terjangkau bagi masyarakat, termasuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
“Aero City tidak hanya sebagai kawasan ekonomi, tetapi sebagai ekosistem kota kreatif dan berdaya saing,” kata Rahmah.
Secara wilayah, pengembangan Aero City mencakup Kecamatan Landasan ulin dan Kecamatan Liang Anggang dengan luas sekitar 7.216 hektare.
Landasan Ulin diposisikan sebagai pintu masuk kota sekaligus pusat aktivitas ekonomi karena kedekatannya dengan bandara. Sementara Liang Anggang diproyeksikan sebagai kawasan pengembangan baru dengan potensi logistik dan pergudangan.
Pengembangan kedua wilayah tersebut dilakukan secara bertahap dan lintas sektor agar pertumbuhan berjalan selaras dengan kesiapan infrastruktur dan kebutuhan investasi.
"Melalui proyek Aero City, Pemkot Banjarbaru berharap terbentuk pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu memperkuat peran kota sebagai simpul transportasi udara sekaligus motor penggerak investasi, industri, jasa, dan ekonomi kreatif," ucapnya.
Kawasan ini, sebut Rahmah juga diharapkan menjadi katalis peningkatan lapangan kerja, nilai tambah ekonomi daerah, serta daya saing Banjarbaru di tingkat regional dan nasional.
Editor : Arif Subekti