Keberadaan gulma tersebut dikhawatirkan dapat berdampak pada proses sedimentasi atau pendangkalan bendungan dalam jangka panjang.
Menurut Yustan, masukan dari tokoh adat Meratus menjadi perhatian serius, mengingat Bendungan Tapin memiliki peran strategis bagi pengendalian air, pertanian, serta keberlanjutan lingkungan di wilayah Tapin dan sekitarnya.
“Kami juga menyampaikan pesan dari tokoh adat Meratus terkait adanya gulma kayapu di Bendungan Tapin. Jika tidak ditangani, ini berpotensi menyebabkan sedimentasi atau pendangkalan bendungan,” ujarnya, Senin (9/2/2026).
Yustan menambahkan, persoalan gulma tersebut telah disampaikan kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan selaku pihak yang memiliki kewenangan teknis terhadap pengelolaan bendungan.
Dari hasil koordinasi, BWS merespons positif informasi tersebut.
“Untuk gulma memang menjadi kewenangan BWS. Mereka memiliki program penanganan dan menyampaikan terima kasih atas informasi yang sudah kami sampaikan,” jelasnya.
Ia berharap, melalui koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, BWS, serta masukan dari tokoh adat dan masyarakat, penanganan gulma di Bendungan Tapin dapat segera dilakukan.
"Sehingga fungsi bendungan tetap terjaga secara optimal," jelasnya.
Sebelumnya Tokoh Dayak Meratus Tapin, Karliansyah menilai perubahan kondisi waduk terjadi sangat drastis.
Waduk yang dulu bersih dengan air berwarna kebiruan, kini berubah menjadi hamparan gulma yang menutupi hampir seluruh area.
“Dulu waduk ini bersih, airnya biru. Sekarang sudah penuh ditutupi gulma kayapu,” ujarnya, akhir Januari tadi.
Menurut Karliansyah, keberadaan gulma dalam jumlah besar bukan hanya merusak pemandangan.
Namun berpotensi menimbulkan ancaman serius terhadap struktur bendungan.
Tumpukan kayapu yang semakin menebal dikhawatirkan menambah beban dan tekanan air.
“Gulma ini sangat berat. Ini sudah tahun kedua waduk penuh seperti ini, dan tekanannya sudah sampai ke check dam Bendungan Tapin,” ungkapnya.
Karliansyah pun mendesak pihak berwenang, terutama balai yang memiliki kewenangan pengelolaan waduk, agar segera mengambil langkah konkret dan berkelanjutan.
“Jangan sampai beban gulma ini terus bertambah dan menimbulkan dampak yang tidak kita inginkan. Ini harus ditangani secara serius,” tegasnya.
Editor : Sutrisno