KANDANGAN – Intensitas hujan tinggi yang memicu banjir di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) pada Desember 2025 lalu, membawa dampak serius bagi sektor pertanian.
Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan HSS mengatakan, puluhan hektare lahan persawahan dan hortikultura yang terendam luapan air, memicu kerugian signifikan bagi para petani setempat.
Dampak kerusakan tercatat cukup merata di beberapa sektor. Di sektor tanaman pangan, total luasan sawah yang terdampak mencapai 12,4 hektare. Seluas 1 hektare di antaranya telah dinyatakan puso atau gagal panen total.
Kondisi lebih memprihatinkan terjadi pada sektor hortikultura. Dari total 15,65 hektare lahan yang tergenang, sebagian besar yakni seluas 11,05 hektare mengalami puso. Selain itu, terdapat tambahan 0,9 hektare lahan hortikultura lainnya juga terdampak banjir.
Tidak hanya tanaman yang siap panen, masa depan musim tanam pun terancam. Sebanyak 895 kilogram semaian padi dilaporkan terdampak, dengan 485 kilogram di antaranya rusak total (puso), sehingga berpotensi menghambat ketersediaan bibit bagi petani.
Menanggapi situasi ini, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan HSS, Lutfiana menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah mencegah terjadinya krisis pangan di tingkat masyarakat. “Dampak banjir terhadap lahan pertanian itu menyebabkan krisis pangan atau kerawanan pangan. Kami bersama pemerintah sudah melakukan penyaluran bantuan sembako dan beras dari cadangan pangan yang tersedia,” ujar Lutfiana.
Pemerintah Kabupaten HSS terus melakukan proses pendataan dan verifikasi lapangan secara mendalam. Langkah ini diambil sebagai dasar hukum untuk penyaluran bantuan bantuan teknis serta menyusun strategi pemulihan sektor pertanian dan hortikultura pascabanjir agar produktivitas petani dapat kembali normal. Sementara, sebagian petani melakukan penanganan secara swadaya untuk menyelamatkan sisa lahan yang ada.
Editor : M Oscar Fraby