RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Masjid Besar Iberahim di Desa Sungai Mandala, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, bukan hanya menjadi pusat kegiatan ibadah masyarakat Nagara Daha, tetapi juga menyimpan kisah sejarah yang terus diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Ketua Harian I Masjid Besar Iberahim, Muhammad Rizali, mengatakan berdasarkan cerita para pendahulu, masjid utama masyarakat Daha semula berada di Desa Tambak Bitin, yang kini menjadi kawasan Puskesmas Nagara.
Menurut kisah yang berkembang, pucuk menara masjid lama pernah terlepas akibat angin ribut dan terbang menyeberangi sungai hingga jatuh di lokasi yang sekarang menjadi Desa Sungai Mandala. Setelah dikembalikan dan dipasang kembali, peristiwa serupa terulang untuk kedua kalinya di tempat yang sama.
Peristiwa tersebut kemudian dimusyawarahkan hingga akhirnya diputuskan memindahkan masjid ke lokasi jatuhnya pucuk menara itu. Dalam pembangunan masjid baru, muncul nama Habib Iberahim Al-Habsy, ulama asal Hadramaut yang dipercaya memimpin panitia pembangunan.
Salah satu kisah yang paling dikenal masyarakat berkaitan dengan tiang utama masjid. Diceritakan, saat panitia kesulitan mendapatkan kayu penyangga utama, Habib Iberahim setelah melaksanakan salat dua rakaat menyampaikan bahwa sebatang kayu akan hanyut dari arah Amuntai melalui sungai. Menurut cerita yang diwariskan, kayu tersebut kemudian benar-benar ditemukan dan digunakan sebagai tiang utama masjid.
Kisah lain menyebutkan Habib Iberahim mampu menarik kayu tersebut seorang diri dari sungai ketika warga kesulitan mengangkatnya. Saat tiang hendak didirikan dan dianggap terlalu berat, ia kembali melaksanakan salat dua rakaat setelah membakar serutan kayu dari tiang tersebut. Tiang yang sebelumnya sulit dipasang kemudian dapat didirikan sehingga pembangunan masjid dapat dilanjutkan.
Berdasarkan arsip foto yang tersimpan, keberadaan Masjid Besar Iberahim telah tercatat sejak 1880. Meski bangunannya telah mengalami perubahan, sejumlah peninggalan bersejarah masih dipertahankan, di antaranya mimbar asli buatan masyarakat Nagara dan tiang utama yang menjadi bagian dari kisah berdirinya masjid. Tiang tersebut kini disimpan dalam lemari kaca di dalam masjid.
Hingga sekarang, makam Habib Iberahim yang berada sekitar 200 meter dari masjid masih menjadi tujuan ziarah masyarakat. "Kisah sejarah masjid ini diketahui secara turun-temurun dari orang tua terdahulu, kemudian diceritakan kembali kepada generasi berikutnya hingga sampai kepada kita sekarang," ujar Rizali. (mpi/mof)
Editor : Arief M