RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Islam bagi masyarakat Banjar bukan sekadar keyakinan, melainkan identitas kebudayaan yang telah mengakar selama berabad-abad. Kokohnya akar Islam di Tanah Banjar tidak lepas dari kebijakan para penguasa Kesultanan Banjar serta strategi ulama yang menyebarkan ajaran dengan pendekatan membumi.
Staf Khusus Bidang Diplomasi Budaya Kesultanan Banjar, Dharma Setyawan, menjelaskan bahwa embrio Islam di wilayah Banjar dibawa pedagang dan mubalig dari pesisir utara Jawa Timur.
Penyebaran Islam semakin masif setelah berdirinya Kerajaan Islam Bandjarmasih pada 1526 di bawah pemerintahan Raden Samudra. Setelah mendapat dukungan Kesultanan Demak dan memeluk Islam dengan gelar Sultan Suriansyah, Raden Samudra menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan. Sejak itu, masyarakat perlahan meninggalkan animisme dan Hindu.
Kebijakan tersebut menjadi titik penting dalam peleburan berbagai unsur budaya. Masyarakat dari latar Melayu, Jawa, hingga Dayak (Ngaju, Maanyan, Lalawangan, Bukit) berproses menjadi satu entitas: Suku Banjar.
Seiring pertumbuhan umat Islam, Kesultanan Banjar memperkuat pendidikan dan kaderisasi ulama. Sultan Tamjidillah I mengutus Muhammad Arsyad Al-Banjari menuntut ilmu ke Mekkah. Selama 30 tahun di Tanah Suci, Syekh Arsyad mendalami ilmu agama sebelum kembali ke Banjar dan mendirikan pusat dakwah di Dalam Pagar, Martapura.
Syekh Arsyad menghasilkan 12–15 kitab dengan pendekatan yang menyesuaikan kondisi lokal. “Corak keberagamaan masyarakat Banjar itu sangat spesifik. Ulama dan Sultan sadar, dakwah harus membumi,” ujar Dharma.
Nilai Islam tidak hanya hadir dalam ibadah, tetapi meresap ke budaya material dan spiritual. Arsitektur rumah Bubungan Tinggi, misalnya, memuat simbol rukun Islam dalam sudut atapnya. Tradisi batapung tawar disesuaikan dengan aqiqah, sementara tahnikah diadaptasi dengan bahan lokal seperti kelapa dan gula merah. Tradisi baayun anak tetap dipertahankan sebagai warisan budaya.
Dalam tradisi agraris, masyarakat Banjar mengiringi proses menanam padi dengan doa dan selawat. Bubur kokoleh disantap sebagai simbol harapan hasil panen maksimal. “Ada keharmonisan yang kuat antara manusia, alam, dan Tuhan kala itu,” jelas Dharma. (zkr/mof)
Editor : Arief M