Mistar Cokrokusumo, Gubernur Kalsel Berjiwa Militer yang Dermawan

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 09:32 WIB
Brigjen TNI Mistar Cokrokusumo
Brigjen TNI Mistar Cokrokusumo

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Pada era 1980-an menjadi babak penting dalam pembangunan Kalimantan Selatan. Di balik geliat pembangunan itu, sosok Brigjen TNI Mistar Cokrokusumo tampil sebagai gubernur yang tidak hanya berjiwa militer, tetapi juga dikenal luas karena kedermawanannya.

Pemerhati sejarah Kalsel, Wajidi, menegaskan bahwa kepemimpinan Mistar Cokrokusumo meninggalkan warisan fisik sekaligus nilai sejarah mendalam bagi Banua. “Mistar Cokrokusumo bukan sekadar pemimpin berlatar militer, melainkan sosok gubernur yang memadukan kedermawanan sosial dengan visi pembangunan jangka panjang untuk Kalsel,” tuturnya.

Lahir di Pare, Kediri, 13 September 1926, ia meniti karier militer sejak 1945. Rekam jejaknya panjang. Terlibat dalam Operasi Clash I dan II, Trikora, hingga penumpasan berbagai pemberontakan. Tanda jasa seperti Bintang Gerilya dan Kartika Eka Paksi menjadi bukti ketangguhannya. Sebelum menjabat gubernur, ia memimpin Kodam X Lambung Mangkurat (1976–1979).

Pada 1980, Mistar Cokrokusumo dipercaya menjadi Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. Masa jabatannya berlangsung hingga 1984.

Di mata masyarakat, ia dikenal sebagai pemimpin yang murah hati. Cerita unik kerap muncul. Warga “mencegat” rombongan gubernur di jalan untuk meminta bantuan pembangunan masjid, pesantren, atau madrasah. Ia selalu siap membawa alokasi bantuan sebelum berangkat, bahkan menampung proposal warga dengan tangan terbuka.

Pegawai Kantor Gubernur kala itu pun sering menerima santunan berupa kain bahan pakaian, menegaskan sisi sosial yang melekat pada dirinya.

Selain dermawan, Mistar Cokrokusumo memiliki pandangan jauh ke depan. Ia melihat potensi besar di kawasan Gambut–Liang Anggang yang saat itu dianggap tidak produktif. Dari gagasan itu lahirlah rencana kota satelit, ditandai dengan pembangunan Monumen Kilometer 17 Gambut sebagai simbol sejarah perjuangan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.

Perhatian Mistar Cokrokusumo terhadap pendidikan tinggi juga menonjol. Pada 1983, ia bersama Wakil Gubernur Ir. H.M. Said membahas pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Tim persiapan dibentuk, dan gagasan besar itu akhirnya terwujud pada 1989 ketika H.M. Said melanjutkan kepemimpinan.

Mistar Cokrokusumo juga menggagas pembangunan rumah jabatan Gubernur Kalsel di Banjarmasin. Lokasi dipilih di bekas lahan Rumah Sakit Jiwa, dengan arsitektur khas Banjar. Sayangnya, ia tidak sempat menempati rumah dinas tersebut.

Sayangnya, garis takdir berkata lain. Sebelum sempat mendiami rumah dinas berarsitektur Banjar yang digagasnya sendiri, kondisi kesehatannya menurun akibat kelelahan usai berolahraga tenis hingga harus dirawat di RS Suaka Insan.

Pada 22 September 1984, Mistar Cokrokusumo wafat akibat serangan jantung. Ia meninggal dunia saat masih aktif menjabat gubernur. Jenazahnya dimakamkan di Kediri, Jawa Timur, dan pemerintah menganugerahkan kenaikan pangkat anumerta menjadi Mayor Jenderal TNI (Purn). (she/gr/mof)

Editor : Arief M
Gubernur Kalsel Sejarah