RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Bagi warga Marabahan, sebutan “Babahan” tentu bukan sesuatu yang asing. Nama itu hingga kini masih melekat pada salah satu kawasan di pusat Kota Marabahan, Kabupaten Barito Kuala (Batola).
Namun, tahukah pian? Di balik nama Babahan tersimpan cerita panjang yang berkaitan dengan sejarah Marabahan. Bahkan menjadi proses awal terbentuknya Kabupaten Barito Kuala.
Tokoh lokal Kota Marabahan, Syahril Effendi menceritakan kawasan yang kini dikenal sebagai Babahan dulunya merupakan sebuah kampung bahari. Di kawasan tersebut terdapat sungai yang dikenal sebagai Sungai Babahan.
Di sekitar muara sungai itulah dahulu berdiri sebuah dermaga besar. Letaknya berada persis di tepi Sungai Barito, dan menjadi salah satu pintu masuk menuju Marabahan. “Dulu dekat Markas Kodim ada Sungai Babahan namanya. Di muaranya, persis di tepi Sungai Barito, ada dermaga besar. Di situlah tempat turun naik kapal-kapal dari luar,” terang Effendi.
Dermaga Babahan bukan sekadar tempat bongkar muat barang. Kawasan tersebut juga menjadi lokasi kedatangan kapal-kapal penumpang dari luar daerah dan pulau. Salah satu rombongan yang pernah tiba melalui dermaga tersebut adalah para transmigran dari Pulau Jawa.
Menurut Effendi, kedatangan transmigran itu berkaitan dengan proses pembentukan Kabupaten Barito Kuala. Ketika itu, jumlah penduduk menjadi salah satu hal yang diperhitungkan untuk memenuhi persyaratan pembentukan daerah. “Untuk mendatangkan transmigrasi, sekian banyak transmigran didatangkan untuk mencukupi kuota atau syarat terbentuknya Kabupaten Barito Kuala,” ujarnya.
Para transmigran dari Pulau Jawa datang menggunakan kapal, kemudian diturunkan di dermaga yang berada di kawasan Babahan. “Justru itu didatangkanlah transmigran dari Pulau Jawa. Mereka didatangkan dengan kapal dan diturunkan di dermaga Babahan itu,” jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, kawasan Babahan berkembang menjadi salah satu bagian penting dari pusat Kota Marabahan. Di sekitar kawasan tersebut kini berdiri sejumlah kantor pemerintahan dan institusi penegak hukum, mulai dari Markas Kodim, Markas Polres Barito Kuala, Pengadilan Negeri hingga Kejaksaan Negeri Barito Kuala.
Sementara bekas lokasi dermaga besar itu telah mengalami perubahan.
Tempat yang dahulu menjadi lokasi kapal-kapal dari luar daerah bersandar kini dikenal masyarakat sebagai kawasan siring. “Sekarang dermaganya sudah tidak seperti dulu. Kawasan itu sekarang menjadi siring. Sebelum ada dermaga yang sekarang, di situlah dermaga lama berada. Sekarang masyarakat lebih mengenalnya sebagai Siring Babahan,” kata Effendi.
Lantas, dari mana sebenarnya sebutan Babahan berasal? Effendi menyebut, nama tersebut berkaitan dengan aktivitas yang dahulu berlangsung di kawasan dermaga.
Dermaga itu menjadi tempat berbagai aktivitas kapal, baik kapal barang maupun kapal penumpang. Dari aktivitas tersebut, sebutan Babahan kemudian melekat di tengah masyarakat. “Karena ada pelabuhan atau dermaga tersebut, tempat aktivitas turun naik kapal barang dan penumpang, sehingga oleh masyarakat melekat menjadi sebutan Babahan,” tuturnya.
Dermaga tersebut disebut dibangun oleh pengusaha besar asal Marabahan, H Kesuma Yuda, yang juga dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah pembentukan Kabupaten Barito Kuala.
Kesuma Yuda disebut memimpin panitia persiapan pembentukan Kabupaten Barito Kuala sebelum daerah tersebut resmi berdiri pada 4 Januari 1960.
Cerita tentang Babahan kemudian membawa pada satu pertanyaan lain: apakah nama Babahan memiliki hubungan dengan nama Marabahan? Menurut Effendi, salah satu versi sejarah menyebut adanya kaitan antara nama Marabahan dengan istilah Muara Bahan atau Babahan. “Jadi ada kaitannya asal Marabahan itu diambil dari nama Muara Bahan atau Babahan tadi,” sebutnya.
Kini, jejak dermaga tua itu mungkin tak lagi terlihat seperti dahulu. Kapal-kapal dari luar daerah tak lagi menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat aktivitas seperti masa lalu. Namun, nama Babahan tetap hidup di tengah masyarakat.
Di balik sebuah nama kawasan yang terdengar sederhana, tersimpan cerita tentang sungai, dermaga, kapal, transmigrasi, hingga perjalanan panjang terbentuknya Kabupaten Barito Kuala.(lan/gr/dye)
Editor : Arief M