RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Bagi masyarakat Banjar, sungai bukan sekadar jalur air. Di masa lalu, sungai menjadi ruang kehidupan, tempat bekerja, berdagang, hingga bepergian. Salah satu bagian penting dari kehidupan sungai itu adalah jukung.
Menariknya, masyarakat Banjar memiliki beragam nama jukung. Penyebutan tersebut bukan sekadar penamaan. Tetapi dapat menunjukkan fungsi, muatan, hingga pekerjaan orang yang menggunakannya.
Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur mengatakan kekayaan istilah tersebut menggambarkan eratnya hubungan masyarakat Banjar dengan sungai.
“Orang Banjar tidak sekadar memberi nama pada jukung. Tetapi dari sebutan kepada jukung yang dimaksud, kita bisa mengetahui untuk apa jukung itu digunakan. Apa yang dibawanya. Bahkan pekerjaan orang yang mendayung jukungnya,” ujar Ersa.
Beberapa nama jukung masih cukup familiar di telinga masyarakat, seperti jukung paiwakan, pambarasan, pamasiran, tambangan, hingga jukung rombong.
Penamaannya pun berkaitan erat dengan fungsi. Jukung pambarasan, misalnya, digunakan untuk mengangkut beras. Sementara jukung pamasiran digunakan membawa pasir.
Ada pula jukung paiwakan untuk mencari ikan. Sedangkan jukung palukahan juga digunakan menangkap ikan, tetapi dilengkapi alat penangkap bernama lukah.
Nama Jukung yang Mulai Langka
Di balik nama-nama yang masih dikenal, terdapat sejumlah istilah jukung yang kini mulai jarang terdengar. Salah satunya jukung penyairan.
Namanya memang terdengar seperti berkaitan dengan kegiatan bersyair. Namun, maknanya jauh berbeda. “Jukung penyairan bukan berarti jukung untuk bersyair kata-kata, tetapi jukung penyairan adalah jukung yang dipakai untuk menangkap udang kecil di area tepi laut,” ungkap Ersa.
Ada pula jukung paninjakan, yang dahulu digunakan para pendulang emas dan intan.
Nama tersebut berkaitan dengan teknik mendulang menggunakan jukung. Pendulang menaiki jukung sambil menginjak tanah yang diyakini mengandung emas.
Ada Jukung yang Mirip Sawah Berjalan
Yang tak kalah unik adalah jukung palacakan dan jukung palambakan.
Kedua jenis jukung tersebut digunakan untuk menyemai benih padi. Bagian dalamnya diisi lumpur, kemudian benih ditanam hingga tumbuh cukup besar sebelum dipindahkan ke sawah. “Di dalam kedua jenis jukung ini, benih disemai sampai ukuran cukup besar. Kemudian dipindah untuk ditanam di sawah,” katanya. Fungsi tersebut membuat jukung seolah menjadi “sawah berjalan” di atas air.
Menurut Ersa, beragamnya jenis dan nama jukung menunjukkan bahwa masyarakat Banjar memiliki perkembangan teknologi dalam mendukung mata pencaharian yang cukup maju pada masanya.
Nama jukung juga tidak bersifat tetap. Seiring perubahan ukuran, bentuk, dan fungsi, penyebutannya ikut berkembang.
Ersa menuturkan, masih banyak nama jukung dalam budaya Banjar yang belum banyak dikenal generasi sekarang. Sebagian masih digunakan, sementara lainnya perlahan hilang seiring bergesernya aktivitas masyarakat ke transportasi darat.
Bagi Ersa, hilangnya istilah-istilah tersebut bukan sekadar hilangnya nama sebuah perahu. Di dalamnya terdapat jejak pengetahuan, pekerjaan, dan kehidupan masyarakat Banjar yang pernah begitu dekat dengan sungai.
“Semoga keunikan nama jukung Banjar ini masih diingat oleh generasi yang akan datang,” pungkasnya.(bir/gr/dye)
Editor : Arief M