Rumah Masa Kecil Gubernur Said di Hulu Sungai Selatan, Masih Kokoh dan Bertahan

M Padil Ihsan • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 08:23 WIB
MASIH KOKOH: Rumah Adat Cacak Burung di Hamawang Desa Tibung Raya, HSS. (Foto: M Padil Ihsan)
MASIH KOKOH: Rumah Adat Cacak Burung di Hamawang Desa Tibung Raya, HSS. (Foto: M Padil Ihsan)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Di kawasan Hamawang, Desa Tibung Raya, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), masih berdiri kokoh sebuah rumah adat Banjar jenis Cacak Burung.

Rumah tersebut merupakan rumah masa kecil Ir. H. Muhammad Said, Gubernur Kalimantan Selatan yang menjabat selama dua periode, yakni 1984 hingga 1995. Muhammad Said dikenal sebagai Bapak Pembangunan Kalimantan Selatan.

Tim Ahli Cagar Budaya HSS, Rendra, mengatakan, dalam sejarahnya rumah adat Banjar memiliki dua fase perkembangan gaya bangunan. Fase pertama berlangsung sejak zaman kerajaan hingga sekitar tahun 1860-an. Pada masa ini, jenis rumah adat Banjar mencerminkan status dan kedudukan pemiliknya.

Beberapa jenis rumah adat Banjar bahkan hanya boleh dibangun di lingkungan keraton. Salah satunya rumah adat Banjar Bubungan Tinggi yang diperuntukkan sebagai kediaman raja. Pembangunannya pun harus mengikuti pakem yang telah ditentukan.

"Dari berbagai jenis rumah adat Banjar, rumah adat Cacak Burung ini rata-rata merupakan rumah milik masyarakat biasa dengan status ekonomi berkecukupan atau berada, maupun mempunyai pengaruh di masyarakat," ujar Rendra, Selasa (15/9).

Fase kedua berlangsung setelah tahun 1860-an hingga sekitar tahun 1930-an. Pada masa ini, rumah-rumah yang sebelumnya hanya boleh dibangun di lingkungan keraton mulai dibangun di luar lingkungan tersebut.

Rumah adat Banjar Bubungan Tinggi, misalnya, tidak lagi hanya diperuntukkan bagi raja. Rumah dengan bentuk tersebut mulai dibangun oleh masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih pada masa itu. "Jadi pada masa itu rumah-rumah adat Banjar boleh dibangun sesuai kemampuan ekonomi masing-masing," jelas Rendra.

Pada fase kedua ini pula, rumah-rumah adat Banjar yang sebelumnya harus mengikuti pakem tertentu mulai bisa dikreasikan. Salah satunya dengan menambahkan berbagai ornamen ukiran pada bagian rumah. "Seperti yang ada di rumah adat Cacak Burung yang ada di Hamawang ini, yang memiliki beberapa ornamen ukiran," terangnya.

Menurut Rendra, keberadaan ornamen ukiran pada rumah adat Cacak Burung tersebut juga mencerminkan status sosial dan ekonomi pemilik rumah.

Di rumah adat Cacak Burung Hamawang terdapat berbagai motif ukiran berupa daun dan sulur-suluran. Selain itu, terdapat pula jamang yang menghiasi bagian ujung atap rumah.

Rumah adat Cacak Burung di Hamawang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1930. Perkiraan tersebut diperkuat dengan adanya surat izin mendirikan bangunan yang bertuliskan tahun 1930. "Tahun 1930 itu diperkirakan rumahnya sudah ada," sebutnya.

Keaslian bentuk bangunan yang masih bertahan hingga sekarang menjadi perhatian pemerintah daerah. Rumah tersebut kemudian dimasukkan dalam daftar cagar budaya HSS sebagai upaya untuk menjaga dan mempertahankan keberadaannya.

Rendra mengatakan, HSS merupakan salah satu daerah yang cukup banyak memiliki bangunan rumah adat Cacak Burung. "Dari beberapa rumah Cacak Burung yang ada ini, semuanya sudah kondisinya hancur tidak tertolong. Rumah Cacak Burung di Hamawang inilah yang masih kokoh dan bertahan," ungkap Rendra.

Ia menerangkan, sebelumnya rumah ini sudah masuk cagar budaya HSS. Namun, belum lengkap secara administrasi dan pemeringkatannya. “Beberapa waktu yang lalu sudah kami lengkapi ulang datanya melalui sidang rekomendasi penetapan Cagar Budaya peringkat kabupaten oleh Tim Ahli Cagar Budaya HSS, sekarang kita tinggal menunggu SK penetapan dan pemeringkatan dari pemerintah daerah," bebernya.

Rumah Cacak Burung merupakan rumah panggung yang menjadi salah satu ciri khas bangunan rumah di Kalimantan Selatan. Bentuk tersebut menyesuaikan kondisi geografis daerah yang mayoritas memiliki wilayah berair.

Rumah panggung pada masa itu berfungsi untuk menghindari genangan banjir sekaligus melindungi penghuni dari berbagai binatang liar. (mpi/mof)

Editor : Arief M
Tokoh Bangunan Bersejarah hulu sungai selatan Sejarah