Mengenal Anceak, Tongkat Sakral Bajau Samah di Laut Kotabaru

Jumain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 17:28 WIB

 

ANCEAK: Sandro Suku Bajau Samah Hamdani menancapkan anceak ke laut saat prosesi Selamatan Leut di Kotabaru, Juli lalu. (Foto: Jumain/Radar Banjarmasin)
ANCEAK: Sandro Suku Bajau Samah Hamdani menancapkan anceak ke laut saat prosesi Selamatan Leut di Kotabaru, Juli lalu. (Foto: Jumain/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru - Anceak menjadi salah satu bagian penting dalam ritual Selamatan Leut masyarakat Suku Bajau Samah di Kampung Wisata Rampa Berkah, Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru.

Sekilas, anceak hanya terlihat seperti sebatang bambu atau tongkat yang ditancapkan ke dasar laut. Namun, bagi masyarakat Bajau Samah, benda tersebut memiliki makna tersendiri dalam tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Sandro Suku Bajau Samah Kotabaru, Hamdani, Senin (14/9), menjelaskan bahwa anceak merupakan bagian dari rangkaian adat Selamatan Leut. Penancapannya dilakukan melalui proses dan tata cara tertentu.

“Anceak itu bagian dari adat kami. Jadi bukan sekadar bambu yang ditancapkan ke laut. Ada proses dan tata cara yang dilakukan sebelum anceak ditancapkan,” ujar Hamdani.

Sebelum anceak ditancapkan, masyarakat terlebih dahulu mempersiapkan berbagai keperluan Selamatan Leut. Mereka kemudian berkumpul dan menggunakan perahu menuju kawasan laut yang telah ditentukan.

“Biasanya masyarakat bersama-sama menuju ke laut. Perahu berkumpul dan mengikuti rangkaian acara yang sudah menjadi tradisi,” jelasnya.

Laut dan Kehidupan Bajau Samah

Menurut Hamdani, laut memiliki posisi penting bagi masyarakat Bajau Samah. Hubungan masyarakat dengan laut bukan hanya menyangkut tempat mencari ikan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak dahulu.

“Orang Bajau ini kehidupannya memang tidak bisa dipisahkan dari laut. Laut tempat kami mencari rezeki, tempat kami hidup dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” katanya.

Kedekatan itulah yang membuat Selamatan Leut menjadi salah satu wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas rezeki dan keselamatan selama menjalani kehidupan di laut.

Dalam prosesi tersebut terdapat bangunan sederhana yang berdiri di atas tiga perahu. Di tempat itulah Sandro memimpin doa sebelum anceak ditancapkan.

“Yang paling utama adalah doa. Kami bersyukur kepada Tuhan atas keselamatan dan rezeki yang diberikan. Setelah doa, baru dilakukan prosesi penancapan anceak,” ungkap Hamdani.

Penancapan anceak dilakukan Sandro sebagai bagian dari prosesi adat. Bagi Hamdani, ritual itu tidak sebatas seremoni. Di dalamnya terdapat pesan yang ingin diwariskan kepada generasi muda agar selalu mengingat Tuhan dan mensyukuri rezeki yang diperoleh dari laut.

“Jangan sampai anak-anak muda hanya melihat acaranya saja, tetapi tidak tahu maknanya. Ini adalah adat yang diwariskan orang tua kami. Jadi harus dipahami dan dijaga,” tuturnya.

Hamdani juga menjelaskan adanya tradisi sebagian masyarakat mengambil air di sekitar anceak setelah prosesi selesai. Air tersebut diminum karena diyakini sebagai bagian dari keberkahan, dengan harapan memperoleh kesehatan dan keselamatan.

“Ada masyarakat yang mengambil air di sekitar anceak. Mereka meyakini itu sebagai bagian dari keberkahan dan berharap diberikan kesehatan serta keselamatan,” ujarnya.

Namun, Hamdani menegaskan bahwa praktik tersebut merupakan bagian dari keyakinan dan tradisi yang berkembang secara turun-temurun di tengah masyarakat Bajau Samah.

“Yang penting kita memahami bahwa ini adalah tradisi. Ada nilai doa dan rasa syukur di dalamnya,” katanya.

Tradisi Sekaligus Pesan Menjaga Laut

Bagi masyarakat Bajau Samah, laut merupakan sumber kehidupan. Dari laut, warga memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Karena ketergantungan tersebut, Hamdani mengatakan menjaga kelestarian laut juga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

“Kalau laut rusak, masyarakat yang pertama merasakan dampaknya. Jadi laut harus dijaga. Jangan hanya mengambil hasilnya, tetapi lingkungan laut juga harus kita pelihara,” katanya.

Pesan menjaga laut itu diharapkan terus hidup bersama tradisi Selamatan Leut. Hamdani ingin ritual yang dilaksanakan setiap tahun pada Juli tersebut tidak hanya menjadi kegiatan budaya, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan adat dan nilai kehidupan masyarakat Bajau Samah kepada generasi berikutnya.

“Harapan kami tradisi ini tetap ada. Anak-anak muda harus mengetahui adat dan budaya mereka sendiri,” ujarnya. (*)

 

Editor : M. Ramli Arisno
Anceak Bajau Samah Selamatan Laut Kotabaru tradisi Bajau Samah Suku Bajau Kotabaru adat Bajau Samah