Panji Perang Banjar, Artefak Perang Kalimantan yang Tersimpan di Rijksmuseum Amsterdam Belanda

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 22:36 WIB
PERANG BANJAR: Sebuah bendera bernomor NG-1977-279-15-1 kini menjadi koleksi Rijksmuseum Amsterdam, Belanda.
PERANG BANJAR: Sebuah bendera bernomor NG-1977-279-15-1 kini menjadi koleksi Rijksmuseum Amsterdam, Belanda.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Sebuah bendera perang asal Kalimantan yang kini tersimpan di Rijksmuseum Amsterdam, Belanda, mengungkap jejak penting Perang Banjar. Bendera bernomor NG-1977-279-15-1 itu diketahui direbut pasukan kolonial Belanda dalam penyerangan terhadap Benteng Ramonia dekat Ampah pada 28 September 1861.

Penelitian provenance yang dilakukan dalam proyek Pilotproject Provenance Research on Objects of the Colonial Era (PPROCE) pada 2022 kemudian mengungkap dugaan baru mengenai asal-usul bendera tersebut.

Berdasarkan konteks militer, karakter visual, warna, dan simbol pada bendera, benda tersebut lebih mungkin berasal dari pasukan yang loyal kepada Pangeran Antasari dan Surapati.

Staf Khusus Bidang Diplomasi Budaya di Kesultanan Banjar, Dharma Setyawan, menilai temuan tersebut sangat penting bagi sejarah Banjar. “Temuan yang sangat penting,” kata Dharma.

Ia menjelaskan, hasil penelitian Rijksmuseum dapat menjadi dasar untuk menyebut bendera tersebut sebagai artefak perang dari Kalimantan. “Bendera NG-1977-279-15-1 merupakan artefak perang dari Kalimantan yang direbut oleh pasukan kolonial Belanda pada 28 September 1861 dalam penyerangan terhadap Benteng Ramonia dekat Ampah,” jelasnya.

Menurutnya, nilai penting bendera tersebut tidak hanya terletak pada keberadaannya sebagai benda koleksi museum di Belanda. Riwayat benda itu membawa pembaca kembali ke salah satu episode perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda di wilayah Kalimantan.

“Penelitian provenance PPROCE tahun 2022, berdasarkan konteks militer, karakter visual, warna, serta simbol pada bendera, penelitian menyimpulkan bahwa bendera tersebut lebih mungkin berasal dari pasukan yang loyal kepada Pangeran Antasari dan Surapati,” papar Dharma.

Temuan itu menjadi penting karena selama ini identitas pemilik atau pengguna bendera tersebut tidak sepenuhnya jelas.

Dalam catatan koleksi sebelumnya, bendera tersebut pernah dikaitkan dengan Pangeran Hidayatullah. Namun, penelitian provenance yang dilakukan Klaas Stutje justru menemukan alasan untuk menolak atribusi tersebut.

Konteks militer pada saat penyerangan Benteng Ramonia menunjukkan bahwa bendera lebih mungkin berasal dari kelompok yang berada dalam jaringan perlawanan Antasari dan Surapati.

Penyerangan Benteng Ramonia berlangsung pada 28 September 1861. Pasukan kolonial Belanda menyerbu benteng yang berada dekat Ampah sebagai bagian dari rangkaian operasi militer di kawasan tersebut.

Dalam catatan sejarah yang ditelusuri penelitian provenance, setelah benteng direbut, pasukan Belanda membawa sejumlah benda yang ditemukan di lokasi. Termasuk bendera-bendera yang sebelumnya berkibar di benteng.

Bendera yang kemudian masuk koleksi Rijksmuseum itu menjadi bagian dari perjalanan panjang artefak perang dari Kalimantan. “Bendera kemudian diberikan oleh Mayor Christoffel Fredrik Koch kepada Museum Bronbeek pada 1870 dan akhirnya masuk dalam koleksi Rijksmuseum,” ujarnya.

Bagi Dharma, penelitian seperti ini penting karena artefak tidak hanya dipandang sebagai benda fisik. Bendera tersebut menyimpan informasi mengenai konflik, kekuatan politik, serta kelompok yang terlibat dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda.

Dari Rijksmuseum, penelitian provenance membawa kembali cerita benda tersebut ke Kalimantan. Tepatnya ke Benteng Ramonia pada 28 September 1861. “Temuan ini sekaligus membuka ruang untuk melihat kembali artefak-artefak Perang Banjar yang kini berada di luar Indonesia,” tandas Dharma. (zkr/mof)

Editor : Arief M
belanda kesultanan banjar Sejarah perang banjar