RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Tanah Laut (Tala) pernah menjadi panggung sebuah kekuasaan kecil yang unik. Di Maluka, pada awal abad ke-19, seorang pejabat Inggris bernama Alexander Hare membangun pemerintahan pribadi, bahkan mencetak mata uang sendiri.
Sejarah ini diungkap oleh Fahmi, warga Pelaihari, yang menilai keberadaan Maluka sebagai bagian penting dari perjalanan panjang Tala. “Wilayah itu bisa dikatakan seperti sebuah kerajaan kecil karena Hare mengelolanya secara pribadi dan memiliki kewenangan yang sangat luas,” ujarnya.
Sebelum masa kolonial, Bumi Tuntung Pandang telah mengalami pergantian kekuasaan, dari Kerajaan Nan Sarunai, Negara Dipa, Negara Daha, hingga Kesultanan Banjar. Pada masa Banjar, wilayah Satui, Tabanio, dan Maluka termasuk dalam lingkup kekuasaan kerajaan.
Memasuki akhir abad ke-18, bangsa Eropa mulai menaruh perhatian besar pada Tala. Potensi lada, hasil laut, emas, dan batu bara menjadikan kawasan ini bernilai ekonomi tinggi. VOC Belanda bahkan mendirikan Benteng Tabanio pada 1789 untuk mengamankan jalur perdagangan pesisir.
Namun, situasi berubah ketika Inggris mengambil alih sejumlah wilayah Belanda di Nusantara. Pada 1812, Thomas Stamford Raffles menunjuk Alexander Hare sebagai wakil Inggris di Kesultanan Banjar. Hare memperoleh konsesi lahan seluas 1.400 mil persegi, mencakup Maluka dan sekitarnya.
Di Maluka, Hare membangun pusat kekuasaan dengan pola pemerintahan sendiri. Sejumlah catatan sejarah menyebut Maluka bahkan memiliki mata uang khusus. Museum Victoria di Australia mencatat keberadaan koin 1 Doit Maluka yang diterbitkan pada 1813 di bawah pemerintahan Hare. “Ini yang membuat sejarah Maluka unik. Bukan sekadar daerah konsesi, karena Hare memiliki kekuasaan luas, termasuk mengeluarkan mata uang,” kata Fahmi.
Selain itu, Hare mendatangkan tenaga kerja dari berbagai daerah untuk mengembangkan perkebunan dan pertambangan. Potensi batu bara dan emas disebut menjadi daya tarik utama. Karena kekuasaan pribadinya, Hare kerap dijuluki “Raja Putih” pertama di Kalimantan, jauh sebelum dinasti Brooke berkuasa di Sarawak.
Meski sempat berpengaruh, kekuasaan Hare tidak bertahan lama. Setelah Inggris menyerahkan kembali wilayah Nusantara kepada Belanda pada 1816, Maluka kehilangan statusnya sebagai kekuasaan mandiri. Dengan demikian, masa pemerintahan Hare hanya berlangsung sekitar empat tahun, dari 1812 hingga 1816.
“Kalau bicara sejarah Tala, Maluka bukan sekadar nama tempat. Di sana pernah terjadi peristiwa politik dan ekonomi besar, ketika seorang asing mengelola wilayah seperti negara kecil,” tutup Fahmi. (sal/mof)
Editor : Arief MSumber : RADAR BANJARMASIN edisi cetak