RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Badudus Panupingan merupakan tradisi bamandi-mandi atau penobatan bagi calon penari topeng kalsik di Desa Barikin. Prosesi ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tari topeng Barikin yang dikenal sebagai kesenian klasik dan sarat nilai adat.
Tradisi Badudus Panupingan kembali dilaksanakan zuriat Datu Taruna di Desa Barikin, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Senin (31/8).
Salah satu zuriat Datu Taruna, Lupi Anderiani mengatakan, badudus panupingan bukan sekadar prosesi adat, tetapi menjadi tahapan penting sebelum seseorang menjalankan peran sebagai penari topeng.
“Badudus kali ini merupakan bentuk pelestarian dan meneruskan amanah dari padatuan, agar tari topeng klasik selalu memiliki penerus dari garis keturunan Datu Taruna,” katanya, Rabu (2/9)
Menurutnya, tari topeng klasik Barikin memiliki nilai sakral sehingga tidak dapat ditampilkan secara sembarangan. Penarinya pun memiliki kedudukan khusus dalam tradisi masyarakat setempat. “Penari topeng adalah penari istana yang memiliki hak istimewa menari di hadapan raja, hari-hari besar serta upacara adat, seperti manyanggar banua,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tari topeng klasik tersebut merupakan warisan Datu Taruna dan secara adat hanya garis keturunannya yang memiliki hak untuk menarikannya.
Karena itu, pelaksanaan Badudus Panupingan menjadi salah satu upaya untuk memastikan tradisi tersebut tetap memiliki generasi penerus di tengah perkembangan zaman.
Datu Taruna sendiri dikenal sebagai pelatih karawitan pada masa Kerajaan Negara Dipa hingga Kerajaan Daha sekitar abad ke-14 silam.
Dalam pementasannya, penari topeng menggunakan berbagai karakter, di antaranya Ranggajiwa, Pamindu, Patih, Antul, Ambam, Kelana, Panambi, Panji dan Tumenggung. Setiap karakter memiliki gerakan tari yang berbeda, disesuaikan dengan tokoh yang digambarkan melalui topeng yang digunakan.
Melalui Badudus Panupingan, zuriat Datu Taruna tidak hanya menobatkan penerus penari topeng, tetapi juga menjaga mata rantai warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun di Barikin. (mal/mof)
Editor : Arief M