Habib Husein Bin Alwi Ba'bud, Ulama Tapin yang Tekun Menghadiri Majelis Ilmu

Rasidi Fadli • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 05:38 WIB
HAUL: Pelaksanaan Haul ke-17 Habib Husein Bin Alwi Ba
HAUL: Pelaksanaan Haul ke-17 Habib Husein Bin Alwi Ba'bud, yang dihadiri berbagai ulama.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Kabupaten Tapin dikenal memiliki sejumlah ulama dan habaib yang semasa hidupnya dikenal dekat dengan masyarakat. Salah satunya adalah Habib Husein bin Alwi Ba’bud.

Sosok yang dikenal tekun menghadiri majelis ilmu dan menghidupkan pembacaan maulid itu telah berpulang ke rahmatullah. Namun, jejak dakwah dan kecintaannya kepada Rasulullah SAW masih dikenang hingga kini.

Pada 26 Agustus 2026, bertepatan dengan 13 Rabiul Awal, keluarga dan masyarakat kembali mengenang beliau melalui Haul ke-17 yang dilaksanakan di Jalan Kesuma Jaya, Kecamatan Tapin Utara. Kisah perjalanan hidup diteruskan oleh ketiga putranya.

Juah sebelum almarhum waaft, pada sekitar tahun 1990, Habib Husein Ba’bud bersilaturahmi kepada sejumlah habaib di Pulau Jawa. Di antaranya kepada Al Habib Muhammad bin Husein Ba’bud di Lawang, putranya Al Habib Ali Ba’bud, serta Al Habib Muhammad Anis bin Alwi Al Habsyi di Solo dan para habaib lainnya.

Di satu kesempatan, Habib Anis mengajak beliau masuk ke sebuah kamar dan berbicara empat mata. Dalam pertemuan tersebut, Habib Anis mengijazahkan Maulid Simtudduror kepada Habib Husein. Tidak hanya untuk diamalkan sendiri, beliau juga mendapatkan izin untuk mengijazahkannya kepada orang lain.

Sejak saat itu, pembacaan Maulid Al-Habsyi semakin rutin beliau lakukan. Bukan hanya di rumah sendiri, tetapi juga di berbagai tempat. Beliau mengajarkan dan mengijazahkan maulid kepada masyarakat di Rantau, Kandangan dan daerah sekitarnya.

Dakwah tersebut bahkan sampai ke berbagai pelosok Kalimantan Tengah, seperti Kapuas, Palangkaraya, Kareng Pangi, Sampit dan Samuda, hingga wilayah Kalimantan Timur.

Lisanul hal Habib Husein Ba’bud mengajarkan satu hal penting. Yakni bagaimana seorang muslim senantiasa mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Caranya dengan memperbanyak pujian dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW, menghadiri majelis-majelis pengajian agama serta mendekatkan diri kepada para ulama.

Pesan yang selalu hidup dari perjuangan beliau adalah agar masyarakat tidak jauh dari majelis ilmu. “Hadirilah majelis-majelis pengajian agama dan majelis kebaikan. Dekatilah para ulama, ambillah dari mereka segala warisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Insya Allah, inilah jalan keselamatan kita.”

Kecintaan Habib Husein terhadap ulama juga sudah terlihat sejak beliau masih muda. Sekitar usia 25 tahun, beliau menikah dengan Syarifah Maryam, putri dari Habib Abbas Bahasyim di Teluk Tiram.

Setelah menikah, beliau sering bersama sang mertua mengikuti pengajian Almarhum KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul. Saat itu, pengajian masih berlangsung di Keraton hingga kemudian berlanjut ke Majelis Ar-Raudhah Sekumpul.

Ada kebiasaan sederhana yang selalu beliau lakukan. Habib Husein sering membawa air minum dalam botol kecil. Air tersebut kemudian dimintakan doa kepada Abah Guru Sekumpul untuk diminum bersama keluarga di rumah.

Pada 1986, karena tuntutan pekerjaan, Habib Husein pindah ke Kandangan. Beliau tinggal dan bekerja di kawasan Tumpang Talu selama kurang lebih dua tahun. Selama berada di Kandangan, silaturahmi dengan para habaib dan ulama tetap beliau jaga.

Hingga suatu ketika, dalam sebuah pertemuan dengan Abah Guru Sekumpul, beliau mendapatkan nasihat untuk meninggalkan pekerjaannya dan berhijrah ke Rantau. Abah Guru bahkan menghadiahkan sejumlah uang kepada beliau. Pesannya, uang tersebut diharapkan cukup untuk menafkahi anak dan istri serta menjadi keberkahan. Nasihat tersebut kemudian dilaksanakan.

Pada 1988, Habib Husein bersama keluarga pindah ke Kota Rantau. Awalnya tinggal di kawasan seberang Masjid Agung Humasa. Setahun kemudian pindah ke Jalan Tasan Panyi Gang Melati. Kurang lebih tujuh tahun tinggal di sana, beliau kemudian menetap di Jalan Kesuma Jaya.

Di Rantau, kebiasaannya bersilaturahmi dan menghadiri pengajian tidak pernah ditinggalkan. Beliau dikenal dekat dengan sejumlah ulama, di antaranya Almarhum Guru H Baseri di Tasan Panyi, Tuan Qoqi H Ismail di Banua Halat, KH Muhammad Aini di Pematang Karangan, Guru H Ali Noordin di Cangkring, Guru Hasbullah di Purut serta Guru H Ansyari di Binuang.

Sekitar 2007, kondisi kesehatan Habib Husein mulai menurun. Namun sakit tidak membuat semangatnya untuk menghadiri majelis ilmu padam. Dalam kondisi tubuh yang semakin lemah, beliau masih berusaha hadir dalam pengajian dan majelis maulid.

Di antaranya pengajian Guru H Ahmad Syairazi di Kandangan dan Guru H Ahmad Barmawi atau Abah Guru Kulur serta majelis-majelis lainnya. Bagi beliau, menghadiri majelis bukan sekadar rutinitas. Itulah bagian dari kecintaan kepada ulama dan Rasulullah SAW.

Menjelang wafat, sejumlah pesan disampaikan Habib Husein kepada keluarga. Sekitar setengah bulan sebelum berpulang, beliau berpesan agar apabila meninggal dunia, yang memandikan adalah Guru H Muaz dari Martapura, sedangkan yang menalqinkan adalah seorang habib dari Lawang.

Beliau juga meminta agar kain kafan yang telah lama disiapkan diambil untuk digunakan apabila dirinya meninggal dunia.

Sekitar sepekan sebelum wafat, beliau kembali meminta agar tanah alkah yang telah disiapkannya bertahun-tahun sebelumnya dibersihkan. Permintaan itu disampaikan kepada salah seorang anak angkatnya. Seolah-olah beliau sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk sebuah perjalanan panjang.

Tiga hari sebelum wafat, kondisi Habib Husein semakin melemah. Beliau terlihat seperti sedang tidur. Ketika dibangunkan oleh putranya, beliau justru berkata: “Abah jangan diganggu, karena abah lagi di Hadramaut,".

Setelah itu beliau dibawa ke rumah sakit. Dalam kesempatan tersebut, beliau sempat mengatakan kepada keluarga bahwa dirinya kedatangan dua orang yang sangat tampan.

Setelah itu, kondisi beliau semakin menurun hingga tidak sadarkan diri. Hingga akhirnya, Habib Husein bin Alwi Ba’bud berpulang ke rahmatullah pada Ahad malam Senin, 15 Rabiul Awal 1431 Hijriah, bertepatan dengan 28 Februari 2010 Masehi.

Beliau meninggalkan Tiga Putra yakni Habib Ahmad Syarif Ba’bud, Habib Muhammad Iqbal Ba’bud, dan Habib Muhammad Basyir Ba’bud. Ketiganya diharapkan dapat meneruskan perjuangan dan dakwah sang ayah.

Jenazah beliau disalatkan di rumah, kemudian di Mushalla Ar-Raudhah dan terakhir di Masjid An-Nur Bungur. Beliau kemudian dimakamkan di alkah yang telah disiapkannya sendiri di depan Masjid An-Nur. (dly/mof)

Editor : Arief M
Sumber : RADAR BANJARMASIN edisi cetak
Tapin Ulama habib Sejarah