RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Sejarah desa di Kabupaten Barito Kuala kerap mencerminkan dinamika pemekaran wilayah dan filosofi masyarakat setempat. Salah satunya adalah Desa Sekata Baru, yang berdiri sejak tahun 1974, dari hasil pemekaran dari Desa Purwosari.
Desa ini kini menjadi bagian dari 16 desa di Kecamatan Tamban. Wilayah Sekata Baru berbatasan dengan Desa Purwosari II di utara, serta Desa Damsari dan Desa Koanda di timur. Menariknya, nama “Sekata Baru” tidak memiliki makna historis khusus.
Kepala Desa Sekata Baru, Pajri yang merupakan warga asli lahir di desa tersebut memberikan tafsir filosofis. Menurutnya, “sekata” berarti sekali bicara, langsung dijalankan.
Filosofi sederhana ini dianggap mencerminkan karakter masyarakat desa yang lugas, tidak berbelit, dan lebih mengutamakan tindakan daripada banyak bicara. “Pokoknya sekata. Sekali bicara saja, tidak banyak ribet dan cerita. Lebih cepat lebih baik,” ujar Pajri.
Secara geografis, Sekata Baru masih didominasi oleh persawahan. Mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian, dengan buruh tani dan perkebunan sawit sebagai mata pencaharian utama.
Sektor Pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi desa, meski sebagian warga mulai mencari alternatif penghasilan dari sektor lain.
Sekata Baru memiliki panjang jalan sekitar 12,6 kilometer, berstatus sebagai jalan kabupaten. Selama bertahun-tahun, kondisi infrastruktur menjadi pekerjaan rumah bagi warga.
Namun, pada tahun 2026 ini, desa mulai mendapat perhatian dengan adanya perbaikan sepanjang empat kilometer jalan. Langkah ini diharapkan membuka akses lebih baik bagi mobilitas warga dan hasil pertanian.
Dengan luas wilayah yang cukup besar, Sekata Baru dihuni sekitar 467 kepala keluarga dengan jumlah penduduk mencapai 1.400 jiwa. Identitas desa tidak hanya terletak pada nama, tetapi juga pada filosofi yang dipegang masyarakat. “Ada filosofi sederhana di baliknya. Sekali sepakat, jangan banyak omong. Langsung gas," tutupnya Pajri. (lan/mof)
Editor : Arief M