TAHULAH Pian. Di balik tenangnya aliran sungai dan kehidupan masyarakat Desa Karang Jawa, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), tersimpan sebuah legenda yang diwariskan turun-temurun.
Kisah ini bukan sekadar cerita rakyat, melainkan bagian dari sejarah lisan yang membentuk identitas desa hingga kini. Legenda Karang Jawa berakar pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah (1595–1641) dari Kesultanan Banjar.
Saat itu, Sultan mengangkat dua Tumenggung untuk memimpin wilayah Hulu Batang Banyu sekaligus menyebarkan agama Islam. Yakni, Tumenggung Karta Taruna dan Tumenggung Kartawedana.
Keduanya disebut berasal dari Kerajaan Sumedang Larang, Jawa Barat. Dengan perahu besar, rombongan mereka menyusuri Sungai Barito hingga tiba di kawasan Nagara. Di sanalah jalan mereka berpisah. Karta Taruna menuju Babirik, sementara Kartawedana bergerak ke selatan melalui Danau Bangkau.
Dalam perjalanan menyusuri anak sungai yang belum bernama, rombongan Kartawedana menemukan seorang gadis mandi di tepi sungai. Gadis itu bernama Ciptasari, seorang puteri raja yang diasingkan karena penyakit kudung (kusta) di tangannya. Peristiwa ini kemudian dikaitkan dengan munculnya nama Sungai Kudung.
Kartawedana merasa iba. Ia memberi sarung kepada sang puteri. Sebuah perintah yang dalam bahasa setempat disebut tapihi, yang kemudian dikaitkan dengan asal-usul nama Desa Tabihi. Rombongan lalu membawa Ciptasari dan mencari cara untuk menyembuhkannya.
Setelah mendapat pengobatan tradisional dari masyarakat setempat, Ciptasari dikisahkan sembuh. Ia kemudian memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Puteri Galuh Syifa. Kesembuhan sang puteri dirayakan dengan pertunjukan wayang kulit yang digelar rombongan Kartawedana.
Pertunjukan itu menjadi pengalaman baru bagi masyarakat lokal. Ketika mendengar bunyi tetabuhan, mereka bertanya-tanya: “Ba apa an?” yang dijawab dengan ungkapan, “Ah, pakarang Jawa haja,” dimaknai sebagai perbuatan atau pertunjukan orang Jawa saja. Dari percakapan itulah, menurut legenda, lahir nama Karang Jawa.
Terlepas dari benar atau tidaknya setiap bagian dalam kisah tersebut, legenda Karang Jawa tetap menjadi cerita turun-temurun yang hidup di tengah masyarakat. "Kisah ini bersumber dari cerita kakek, paman, dan keluarga," ujar salah satu warga Desa Karang Jawa, Ali Akbar Fitriady. (mpi/mof)
Editor : Arief