RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Bagi masyarakat yang berkunjung ke Kotabaru, Wisata Siring Laut identik dengan kemegahan Patung Ikan Todak Kembar, landmark modern, hingga Masjid Apung berkapasitas seribu jemaah.
Kawasan ini menjadi pusat kuliner seafood sekaligus ruang publik favorit. Namun, jauh sebelum era 2000-an, wajah Siring Laut berbeda jauh dari yang dikenal sekarang.
Dedi Amir (53), warga asli Kotabaru, masih mengingat jelas masa remajanya ketika garis pantai itu belum tersentuh pembangunan modern. “Dulu belum ada bangunan di atas laut. Yang ada cuma jembatan kayu sederhana dan rumah panggung,” kenangnya.
Kala itu, batas daratan berhenti di tepi jalan raya depan perkantoran. Suasananya sunyi, hanya diwarnai lalu lalang kapal bersandar dan trotoar sederhana. Landmark-legendaris sekitar pun mengalami alih fungsi seiring waktu.
Jembatan Jodoh, misalnya, dahulu berupa jembatan kayu panjang yang menjadi ikon pertemuan muda-mudi. Gedung DPRD Kotabaru dulunya adalah Bioskop Gembira, tempat warga menonton film. Sementara Gedung Abdi Negara, yang kini berdiri megah, pernah berfungsi sebagai rumah sakit sederhana di dekat puskesmas lama.
Meski fasilitas terbatas, kawasan depan Siring Laut tetap menjadi magnet sosial. Malam Minggu dan subuh Minggu, trotoar dan pinggir jalan dipenuhi muda-mudi yang bersantai, menikmati semilir angin laut, atau berjalan santai selepas salat subuh. Tradisi itu menjadi kenangan kolektif generasi Kotabaru sebelum wajah modernisasi hadir.
Kini, garis pantai yang dulu sunyi telah bertransformasi total menjadi maskot pariwisata kebanggaan masyarakat Kotabaru. Siring Laut mempertemukan nilai sejarah masa lalu dengan pesona pembangunan era modern. “Kalau diingat-ingat, banyak sekali kenangan di Siring Laut zaman dulu bersama kawan dan keluarga,” tutup Dedi Amir. (jum/mof)
Editor : Arief