Jejak Gajah Purba di Tamban, Tulang Tersimpan di Museum Lambung Mangkurat

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 06:44 WIB
BUKTI SEJARAH: Pengunjung museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru melihat fosil tulang gajah purba. (Foto: MC KALSEL)
BUKTI SEJARAH: Pengunjung museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru melihat fosil tulang gajah purba. (Foto: MC KALSEL)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Meski kini gajah tak lagi ditemukan di Kalimantan Selatan, sejarah mencatat bahwa ribuan tahun silam wilayah ini pernah menjadi habitat gajah purba.

Bukti nyata, sebagian fosil tulang tersebut tersimpan di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru, sebagai koleksi geologi yang merekam kehidupan satwa purba di Bumi Lambung Mangkurat.

Sebelumnya, fosil tulang gajah tersebut ditemukan di Tamban, Kabupaten Barito Kuala, tepatnya di kawasan Kilometer 17 dan 18. Diperkirakan fosil tulang gajah purba tersebut berusia sekitar 10.000 tahun.

Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur, menjelaskan bahwa fosil tersebut pernah diperiksa ahli dari Jakarta dan diduga berasal dari jenis mastodon, sebutan umum untuk kelompok gajah purba.

Namun, dalam konteks fauna Nusantara pada zaman Pleistosen, jenis yang lebih dikenal adalah Stegodon dan Elephas. “Temuan di Tamban menjadi menarik karena menunjukkan bahwa wilayah Kalsel pernah dihuni satwa berukuran besar tersebut,” ujarnya, Senin (17/8).

Dalam teori migrasi yang dipaparkan Buletin Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Banjar tahun 1991, perpindahan hewan dan manusia dimungkinkan terjadi ketika permukaan laut turun pada periode zaman es.

Saat itu, Paparan Sunda menjadi daratan luas yang menghubungkan Kalimantan, Sumatra, Jawa, hingga Asia daratan. Kondisi ini membuka jalur migrasi bagi berbagai jenis satwa, termasuk gajah purba.

Sungai Barito, Tabalong, hingga Bengawan Solo tercatat sebagai bagian dari jaringan perairan yang memperlihatkan keterkaitan fauna air tawar. Jejak migrasi satwa besar itu salah satunya terekam dari fosil gajah di Tamban, yang diperkirakan hidup di hutan lebat pada masa glasial.

Ketika zaman es berakhir dan permukaan laut kembali naik, Paparan Sunda perlahan tenggelam. Daratan yang sebelumnya menjadi jalur migrasi satwa pun terpisah oleh laut. Gajah purba yang pernah mendiami Tamban akhirnya menghilang dari bentang alam Kalsel.

Keberadaan fosil gajah purba ini menjadi pengingat bahwa jauh sebelum Kalsel sekitarnya berkembang, kawasan ini pernah menjadi bagian dari bentang alam luas yang dilalui manusia dan satwa. (van/mof)

Editor : Arief
fosil Museum Lambung Mangkurat barito kuala ULM Sejarah