RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Gambaran arsitektur istana Kerajaan Banjar yang hilang ditelan waktu ternyata masih dapat ditelusuri melalui rumah tradisional Bubungan Tinggi yang tersisa di Kalimantan Selatan.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rumah adat ini bukan sekadar peninggalan arsitektur, melainkan cermin tipologi ruang dan bentuk istana Banjar pada masa lalu.
Kajian yang dilakukan oleh Bani Noor Muchamad dan Naimatul Aufa bertajuk Rekonstruksi Tipologi Ruang dan Bentuk Istana Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan membandingkan 16 rumah Bubungan Tinggi yang tersebar di berbagai wilayah bersejarah Banjar. Dari penelitian itu, ditemukan pola ruang konsisten yang terdiri atas lima bagian utama: pelataran, panampik, paledangan, anjung, dan pedapuran.
Susunan ruang tersebut membentuk pola khas menyerupai tanda tambah atau cacak burung, yang juga dikenal dalam simbol kepercayaan Dayak Ngaju. Dari sisi bentuk, rumah Bubungan Tinggi memiliki anjung di sisi kiri dan kanan serta atap bertingkat yang menjadi identitas utama.
Dari sejumlah bangunan yang diteliti, rumah Bubungan Tinggi di Desa Teluk Selong Ulu, Martapura, dinilai paling representatif sebagai acuan replika. Pertimbangannya meliputi kedekatan dengan konteks sejarah, kondisi bangunan yang relatif terpelihara, serta keaslian konstruksi dan ornamen.
Pada saat penelitian dilakukan, jumlah rumah Bubungan Tinggi yang masih bertahan di Kalimantan Selatan tidak lebih dari 25 unit. Sebagian telah rusak, terbakar, atau kehilangan bentuk aslinya. Kondisi ini memperlihatkan betapa pentingnya pelestarian bangunan yang masih mempertahankan tipologi ruang dan konstruksi tradisional.
Bagi masyarakat Banjar, rumah Bubungan Tinggi bukan sekadar peninggalan arsitektur. Ia menjadi jejak fisik yang membantu mengisi keterbatasan sumber sejarah mengenai wujud istana. Tipologi ruang, bentuk bangunan, hingga ornamen tradisional menjadi kunci untuk memahami kembali peradaban Banjar yang pernah berjaya. (zkr/mof)
Editor : Arief