RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PELAIHARI - Sebelum menjadi desa dengan kehidupan masyarakat seperti sekarang, Bumijaya merupakan kawasan permukiman transmigrasi. Dari tempat inilah 224 kepala keluarga (KK) yang datang dari sejumlah daerah di Pulau Jawa mulai menata kehidupan baru di Kabupaten Tanah Laut (Tala).
Kisah itu bermula pada 1977. Secara bertahap, para transmigran tiba di Kalsel pada Maret hingga April. Mereka berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Sragen, Kota Semarang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Banyumas, dan Kabupaten Boyolali.
Kepala Desa Bumijaya Mulyono menuturkan, para transmigran tersebut ditempatkan di kawasan Proyek Transmigrasi Tajau Pecah II Unit Sarang Halang. Saat itu, permukiman masih berada di bawah binaan Departemen Transmigrasi. “Yang dipercaya dari Departemen Transmigrasi untuk membina warga atau sebagai KUPT saat itu adalah Bapak Sutardi Darmosuwito,” katanya.
Bagi para transmigran, kedatangan ke Tala menjadi awal perjalanan panjang. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus membangun pemukiman dan kehidupan sosial dari awal.
Tiga tahun kemudian, status kawasan tersebut mulai berubah. Pada 1980, permukiman transmigrasi secara resmi diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Tala.
Seiring penyerahan tersebut, dibentuk Desa Persiapan Bumijaya. Hariyo Sutrisno dipercaya menjadi kepala desa persiapan. Nama Bumijaya sendiri memiliki makna khusus.
Nama tersebut merupakan hasil kesepakatan para tokoh masyarakat. Di baliknya terdapat doa agar kawasan yang baru dibangun tersebut menjadi bumi yang membawa kejayaan bagi masyarakat.
Setahun berselang, Bumijaya memasuki babak baru. Pada 1981, untuk pertama kalinya digelar pemilihan kepala desa. Karimin SQ terpilih sebagai kepala desa pertama. Ia dilantik pada 3 Oktober 1981 oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Tala. Momentum tersebut sekaligus menandai Bumijaya resmi menjadi desa definitif.
Namun, perjalanan pemerintahan desa tidak selalu mulus. Karimin SQ tidak dapat melanjutkan tugasnya sehingga Abdul Rohmad dipercaya sebagai Pjs Kepala Desa. Pada 1986, pemilihan kepala desa kedua digelar. Joyo Suwarno terpilih dan dilantik pada 26 Februari 1986 dengan masa jabatan delapan tahun.
Estafet kepemimpinan berlanjut. Suhadak HS terpilih sebagai kepala desa ketiga dalam pemilihan pada 27 Desember 1994 dan dilantik pada 30 Januari 1995. Ia kembali dipercaya masyarakat pada pemilihan kepala desa keempat, 17 Desember 2003. Ia dilantik pada 24 Desember 2003. Namun, tiga tahun setelahnya, ia mengundurkan diri. Purnomo kemudian ditunjuk sebagai Pjs Kepala Desa.
Pemilihan kepala desa kelima digelar pada 15 November 2006. Sukimin terpilih dan dilantik pada 29 Desember 2006 untuk masa bakti 2006-2011. Sukimin kemudian mengundurkan diri dari jabatannya. Purnomo kembali dipercaya menjadi Pjs Kepala Desa hingga dilaksanakannya pemilihan berikutnya.
Pada 22 November 2011, masyarakat Bumijaya kembali memilih kepala desa. Mulyono, ST, terpilih sebagai kepala desa keenam dan dilantik pada 14 Desember 2011 untuk periode 2011-2017.
Mulyono kembali mendapat kepercayaan masyarakat dalam pemilihan kepala desa ketujuh pada 15 November 2017 untuk periode 2017-2023. Kini, Bumijaya telah berkembang menjadi desa dengan luas sekitar 800 hektar. Wilayahnya memiliki karakter geografis berbukit-bukit.
Bagi Mulyo, perkembangan Bumijaya tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para transmigran yang menjadi generasi pertama desa tersebut. Mereka datang membawa keluarga dan harapan. Dari permukiman transmigrasi, kemudian berubah menjadi desa persiapan hingga akhirnya menjadi desa definitif.
“Sejarah Bumijaya tidak lepas dari perjuangan para pendahulu. Mereka yang membuka dan membangun desa ini dari awal,” imbuhnya. (sal/mof).
Editor : Arief