Cerita Desa Lok Laga, Jadi Bagian dari Memori Kolektif Warga HST

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:19 WIB
ASRI: Kantor Desa Sungai Harang, Kecamatan Haruyan. Di sini terdapat sebuah lokasi sarat mitos. Lok Laga, atau Teluk Naga. (Wikipedia)
ASRI: Kantor Desa Sungai Harang, Kecamatan Haruyan. Di sini terdapat sebuah lokasi sarat mitos. Lok Laga, atau Teluk Naga. (Wikipedia)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Di tepian Hulu Sungai Tengah, tepatnya di Desa Sungai Harang, Kecamatan Haruyan, terdapat sebuah lokasi yang namanya sarat mitos. Lok Laga, atau Teluk Naga.

Bagi sebagian orang, kisah tentang naga yang pernah mengamuk di tempat itu hanyalah dongeng yang diwariskan turun-temurun. Namun, bagi masyarakat setempat, legenda tersebut adalah bagian dari identitas budaya yang terus hidup hingga kini.

Cerita bermula dari sebuah pesta pernikahan besar di pedalaman. Seorang penghulu adat menikahkan putri tunggalnya dengan perayaan yang berlangsung tujuh hari tujuh malam. Para tamu berdatangan dari berbagai penjuru. Mulai kepala suku dari hutan rawa, tetua dari pegunungan, hingga rombongan yang datang dengan lanting dari wilayah perairan.

Suasana pesta kala itu digambarkan meriah. Hidangan tradisional seperti nasi, lamang, dan ketan tersaji, diiringi denting musik kurung-kurung, alat musik kayu dan bambu yang dahulu dimainkan para peladang Dayak Meratus saat bergotong royong menanam padi.

Ketika kedua mempelai akhirnya menaiki lanting berhias ukiran naga, cerita berubah menjadi tragedi. Di titik terdalam sungai, ukiran naga itu dikisahkan hidup. Matanya membeliak, lidahnya menjulur, seolah hendak memangsa.

Sang pawang segera menebas kepala naga dengan parang, darah pun disebut mengalir deras. Dari peristiwa itulah nama Lok Laga dipercaya lahir.

Tokoh masyarakat Abdullah mengatakan, legenda itu tetap bertahan, dituturkan dalam dongeng, obrolan malam, hingga cerita orang tua kepada cucu. Tidak ada bukti sejarah yang memastikan kebenarannya, tetapi kisah tersebut menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Sungai Harang. “Ini hanya sebuah legenda,” ujarnya.

Kini, Lok Laga bukan sekadar cerita. Sungainya nyata, kawasan wisata itu benar-benar ada, menjadi destinasi budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati alam, tetapi juga untuk merasakan atmosfer legenda yang masih hidup.

"Mungkin kisah naga itu hanyalah dongeng. Atau mungkin, seperti banyak legenda lainnya, ada bagian dari masa lalu yang sengaja disimpan dalam cerita agar tidak benar-benar hilang ditelan zaman," pungkasnya. (mal/mof)

Editor : Arief
asal usul Budaya hulu sungai tengah Desa Sejarah