RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Hotel Arum, yang awalnya bernama Junjung Buih Plaza, mulai dibangun pada Februari 1989 dan rampung pada Desember 1990. Dirancang oleh Parama Loka Consultant, gedung berlantai sembilan ini menjadi salah satu bangunan tinggi pertama di Kalimantan Selatan.
Pada masa kejayaannya, Hotel Arum hadir sebagai pusat perbelanjaan sekaligus hotel berbintang empat. Dengan lebih dari 140 kamar, kolam renang, restoran, dan ruang pertemuan, ia menjadi simbol optimisme pembangunan kota Banjarmasin di awal 1990-an.
Namun, kerusuhan sosial Mei 1997 meninggalkan trauma mendalam. Sejak itu, pamor Hotel Arum perlahan meredup, hingga kini lebih sering dilewati tanpa disadari, seolah menjadi bagian sunyi dari kota yang terus bergerak.
Pada 1997 itu, tepatnya tanggal 23 Mei 1997, terjadi kerusuhan massal. Peristiwa yang kemudian disebut sebagai Jumat Kelabu. Salah satu terbesar dalam sejarah Orde Baru.
Pada hari itu berlangsung putaran terakhir masa kampanye Pemilu 1997 dan bertepatan dengan hari Jumat, yang secara kebetulan merupakan hari kampanye Golkar. Usai salat Jumat, kampanye akan dilanjutkan dengan panggung hiburan rakyat di Lapangan Kamboja.
Pada acara tersebut akan hadir Menteri Sekretaris Kabinet Saadilah Mursjid, Ketua MUI Kiai Hasan Basri, dan artis-artis ibu kota. Rencana itu tidak pernah terwujud, karena yang terjadi kemudian adalah malapetaka berupa kerusuhan massal.
Di Junjung Buih Plaza yang di dalamnya terdapat Hotel Kalimantan, menjadi tempat menginap sejumlah artis dan juru kampanye yang mengikuti kegiatan kampanye. Di hotel tersebut juga menginap Kiai Hasan Basri, yang turut serta dalam rombongan kampanye. Di lokasi itu juga terdapat Gubernur Kalimantan Selatan, Gusti Hasan Aman beserta unsur musyawarah pimpinan daerah, yang akhirnya berhasil diselamatkan.
Setelah kerusuhan itu, bangunan ini sempate terbengkalai. Namun aktif kembali dengan nama Hotel Arum. Pada 24 Juli 2010, Hotel Arum menjadi saksi peristiwa bersejarah. Yakni digelarnya Musyawarah Tinggi Adat yang menandai kebangkitan simbolik Kesultanan Banjar. Di hotel itu, Gusti Khairul Saleh dianugerahi gelar Pangeran sekaligus Raja Muda Kesultanan Banjar, gelar tertinggi pasca pembubaran kolonial.
Menurut pemerhati sejarah Banjar, Dharma Setyawan, pemilihan Hotel Arum bukan kebetulan. “Keputusan besar itu tidak diambil di istana atau bangunan feodal, tetapi di ruang publik modern. Itu pesan simbolik bahwa kebangkitan ini bersifat kultural, bukan politik,” ujarnya.
Kini, Hotel A berdiri sebagai bangunan yang kehilangan pamor, tetapi menyimpan jejak sejarah besar. Ia bukan sekadar gedung tua di pusat kota, melainkan ruang yang pernah menjadi simpul kebangkitan budaya Banjar. (zkr/mof)
Editor : Arief