Kampung Tua Alalak, Tempat Berkumpulnya Berbagai Kelompok Masyarakat

Endang Syarifuddin • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 11:19 WIB
KANTOR ADMINISTRASI: Kantor Kelurahan Alalak Selatan, Kecamatan Banjarmasin Utara. Kawasan ini merupakan salah satu kampung tertua di Kota Banjarmasin.
KANTOR ADMINISTRASI: Kantor Kelurahan Alalak Selatan, Kecamatan Banjarmasin Utara. Kawasan ini merupakan salah satu kampung tertua di Kota Banjarmasin.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Salah satu kawasan tertua di Kota Banjarmasin ternyata menyimpan sejarah panjang yang telah tercatat sejak ratusan tahun silam. Kawasan itu adalah Alalak, yang kini menjadi nama sejumlah kelurahan di Kecamatan Banjarmasin Utara.

Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur, menjelaskan bahwa nama Alalak diyakini berasal dari bahasa Arab, yakni Al-Alaq yang berarti "segumpal", "menggumpal", atau "menyatu".

"Makna itu sangat sesuai dengan sejarah kawasan Alalak. Sejak dahulu wilayah ini menjadi tempat berkumpulnya berbagai kelompok masyarakat hingga akhirnya melebur menjadi satu komunitas," ujarnya kepada Radar Banjarmasin.

Menurutnya, nama Alalak bukanlah nama baru. Dalam Hikayat Banjar, naskah sejarah yang penyusunannya berakhir sekitar tahun 1663, kawasan tersebut telah disebut dengan nama Halalak.

"Itu menunjukkan bahwa Alalak sudah dikenal sejak masa Kesultanan Banjar. Bahkan kawasan ini termasuk kampung tua yang memiliki posisi penting bersama Kampung Kuin sebagai bagian dari pusat awal perkembangan Kesultanan Banjar," jelasnya.

Ia menerangkan, Alalak Selatan pada mulanya merupakan kawasan delta yang terbentuk dari pertemuan empat sungai kecil yang bermuara ke Sungai Barito. Kondisi geografis berupa rawa, hutan membuat daerah itu awalnya masih sepi dari permukiman.

Namun seiring waktu, wilayah tersebut mulai didatangi berbagai kelompok pendatang. Mulai dari masyarakat Melayu Pontianak, warga Pahuluan seperti Kandangan dan Amuntai, Dayak Bakumpai dari wilayah Barito, Bugis, Tionghoa, Arab, hingga pendatang dari Daha atau Negara.

"Mereka hidup berdampingan, saling berinteraksi, melakukan perkawinan antarkelompok, lalu terbentuklah identitas baru yang kemudian dikenal sebagai Orang Alalak. Jadi nama Alalak bukan hanya menunjukkan sebuah tempat, tetapi juga simbol penyatuan berbagai etnis," paparnya.

Mansyur menambahkan, penamaan kawasan di Kota Banjarmasin tidak dapat dipisahkan dari sejarah, budaya, dan kondisi alam lahan basah. Banyak nama kelurahan di Banjarmasin lahir dari karakter sungai, rawa, vegetasi, hingga bentang alam yang mengelilinginya.

"Toponimi atau asal-usul nama tempat menjadi bukti hubungan erat masyarakat Banjar dengan lingkungan perairan. Sungai bukan sekadar jalur transportasi, tetapi juga ruang sosial, ekonomi, dan budaya yang membentuk identitas masyarakat," terangnya. (gmp/mof)

Editor : Arief
berita Banjarmasin Desa Sejarah