Mantra Banjar, Bukan Ilmu Hitam dan Sihir

M Idris Jian Sidik • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 09:02 WIB
LAHIRAN: Ilustrasi seseorang saat sedang kesakitan saat melahirkan. (Ilustrasi AI)
LAHIRAN: Ilustrasi seseorang saat sedang kesakitan saat melahirkan. (Ilustrasi AI)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Di balik kemajuan teknologi medis yang serba canggih, orang Banjar menyimpan warisan leluhur yang tak ternilai harganya. Salah satunya adalah mantra.

Sastra lisan yang bukan sekadar rangkaian kata. Melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Banjar, termasuk dalam momen paling sakral seorang perempuan saat melahirkan.

Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur, mengungkapkan bahwa kekayaan sastra lisan yang dimiliki orang Banjar begitu beragam, dan mantra menjadi salah satu yang paling sering dipraktikkan pada masanya.

Dia mengatakan, warisan sastra lisan orang Banjar sangat kaya dan bervariasi. Mantra adalah salah satu bentuk yang paling banyak dipraktikkan karena dipercaya memiliki khasiat untuk keperluan tertentu. “Bagi orang Banjar yang meyakininya, membaca mantra bisa menambah rasa percaya diri bahkan memberikan ketenangan yang nyata," jelas Ersa Fahriyanur.

Salah satu warisan yang ia soroti adalah mantra yang berkaitan dengan tradisi kebidanan. Sebuah profesi yang di masa lalu memiliki kedudukan sangat terhormat di tengah masyarakat Banjar.

"Bidan di masa lalu bukan sekadar penolong persalinan. Mereka adalah sosok yang dituakan, bahkan tidak jarang merangkap sebagai tetua adat yang memimpin berbagai tradisi ritual. Kepercayaan masyarakat kepada bidan sangat lah besar," ujarnya.

Ia menjelaskan, ketika seorang ibu hamil memasuki usia kandungan tujuh bulan, bidan yang dipercaya menangani kehamilan itu mulai membacakan mantra-mantra tertentu sebagai upaya memberikan ketenangan bagi sang calon ibu dan pembacaan mantra itu terus berlangsung hingga tiba masa persalinan.

Salah satu yang diwariskan dari generasi ke generasi adalah mantra penghilang rasa sakit saat melahirkan. Mantra ini dibuka dengan Bismillah dan mengandung penggalan ayat Alquran, merujuk pada Surah Al-Qalam, yang kemudian diikuti permohonan agar rasa sakit sirna dan bayi lahir dengan selamat, ditutup dengan kalimat syahadat sebagai puncak keyakinan.

"Mantra ini sepenuhnya berakar pada kepercayaan keislaman orang Banjar. Bukan ilmu hitam, bukan sihir, ini adalah doa yang dibingkai dalam tradisi lokal. Intinya permohonan kepada Allah agar sang ibu diberikan kemudahan dan bayinya selamat," terang Ersa.

Meski di era modern mantra kerap dianggap tidak relevan atau bahkan dipandang sebelah mata, Ersa memiliki pandangan berbeda. Ia menunjuk pada fenomena yang sudah diakui dalam dunia medis: kekuatan pikiran dan keyakinan sangat berpengaruh terhadap respons tubuh terhadap rasa sakit.

"Sebagaimana obat bius yang bisa menghilangkan rasa sakit dalam operasi medis, tidak menutup kemungkinan kekuatan keyakinan juga mampu mengalihkan rasa sakit dari tubuh. Yang terpenting, orang yang membaca atau mendengar mantra ini harus benar-benar meyakininya di dalam hati," papar Ersa.

Ia berharap warisan seperti ini tidak sekadar menjadi catatan sejarah yang tersimpan di lemari arsip, melainkan terus dikaji dan dimaknai sebagai bagian dari identitas budaya orang Banjar yang kaya.

"Ini bukan sekadar mantra kuno yang tidak relevan. Ini adalah cerminan bagaimana leluhur orang Banjar memandang kehidupan, kesehatan, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Kita perlu merawat dan memahaminya, bukan menghakiminya dengan ukuran zaman sekarang," pungkasnya. (bir/mof)

Editor : Arief
mantra Budaya ibu berita Banjarmasin Sejarah