RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KANDANGAN - Siapa sangka, di halaman Gedung Juang ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang kini menjadi Museum Rakyat Hulu Sungai Selatan (HSS), terpajang sebuah rudal anti kapal asli yang pernah menjadi bagian dari sistem persenjataan militer.
Rudal tersebut adalah P-15 Termit, koleksi bersejarah yang bukan sekadar pajangan, melainkan bagian dari perangkat persenjataan KRI Gadjah Mada, kapal perusak pertama milik TNI Angkatan Laut.
Kurator Museum Rakyat HSS, Rendra, menjelaskan rudal itu menjadi salah satu koleksi unggulan museum karena memiliki nilai sejarah tinggi.
"Rudal ini merupakan bagian dari perangkat persenjataan kapal perusak pertama milik TNI Angkatan Laut Republik Indonesia, KRI Gadjah Mada," ujarnya, Jumat (24/7/2026).
KRI Gadjah Mada memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Kapal tersebut awalnya dibangun di Inggris pada 22 Mei 1940 dengan nama HMS Nonpareil. Dua tahun kemudian, kapal dialihkan kepada Angkatan Laut Kerajaan Belanda dan berganti nama menjadi HNLMS Tjerk Hiddes, diambil dari nama Laksamana Belanda abad ke-17, Tjerk Hiddes de Vries.
Selama Perang Dunia II, kapal itu terlibat dalam berbagai operasi militer bersama Angkatan Laut Britania Raya dan Amerika Serikat di kawasan Samudra Hindia hingga Australia.
Setelah perang berakhir, kapal dijual kepada Indonesia dan berganti nama menjadi KRI Gadjah Mada. Kapal tersebut kemudian menjadi kapal perusak sekaligus kapal bendera pertama milik TNI AL sebelum dipensiunkan dan dibongkar pada 1961.
Rendra menambahkan, rudal yang kini menjadi koleksi Museum Rakyat HSS itu diserahkan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut Republik Indonesia saat itu, Jenderal TNI Arief Kushariadi, pada 1996 bertepatan dengan peresmian Gedung Juang ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Kandangan.
Tak hanya rudal, halaman museum juga menyimpan torpedo serta sejumlah perlengkapan persenjataan lain yang berasal dari KRI Gadjah Mada. Koleksi-koleksi tersebut menjadi saksi perjalanan sejarah perjuangan dan perkembangan kekuatan maritim Indonesia yang kini dapat disaksikan langsung oleh masyarakat.
Editor : Eddy Hardiyanto