RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Dua meriam kuno di bekas halaman Kantor Bupati Kotabaru bukan sekadar hiasan kota, melainkan penanda sejarah panjang Kerajaan Bangkalaan yang pernah berjaya di bawah panji Kesultanan Banjar.
Pada masa keemasannya, pengaruh dan wilayah kekuasaan kerajaan ini begitu membentang strategis di tiga kawasan utama. Yakni Sungai Bangkalaan, Rumah Hadipati Karang Katatan, dan Bangkalaan Melayu (wilayah yang kini secara administratif masuk Kecamatan Kelumpang Hulu, Kotabaru).
Pemerhati Budaya Kotabaru, Saijul Kurnain menuturkan bahwa pusat peradaban dan Istana Kerajaan Bangkalaan Melayu dahulu menjadi tampuk kepemimpinan Ratu Intan (Aji Tukul) yang bergelar Ratu Agung binti Pangeran Aji Jawa.
Kendati bangunan fisik istananya kini telah habis dimakan usia dan iklim perairan pesisir, denyut kebudayaannya tak pernah benar-benar punah. "Peninggalan fisik kerajaan ini sebagian masih terjaga,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain dua meriam kuno tersebut ada pula artefak penting berupa sebuah tombak pusaka kerajaan yang sampai saat ini dirawat secara turun-temurun di Balai Bangkalaan Dayak.
Tak hanya kuat di daratan, Kerajaan Bangkalaan pada paruh kedua abad ke-19 menjelma menjadi kekuatan maritim yang diperhitungkan. Kebudayaan bahari masyarakat Bangkalaan tercatat dalam lembaran sejarah ketika dipimpin oleh Aji Semarang Pangeran Muda Muhammad Aribillah.
Di bawah bimbingan sang ibu, Aji Semarang tumbuh menjadi penguasa muda yang visioner. Sekitar tahun 1880, ia memimpin armada pelayaran dagang lintas samudra. Tanpa ragu, kapal-kapal kayu dari Bangkalaan mengarungi perairan internasional hingga menembus Negeri Siam (Thailand).
Misi pelayaran internasional tersebut membawa komoditas hasil bumi dan rempah-rempah unggulan lokal untuk diperdagangkan di pasar Asia Tenggara, sekaligus memperkokoh posisi tawar diplomasi budaya kerajaan pesisir Kalimantan di mata dunia.
Selain jejak perdagangan dan artefak perunggu, nilai kebudayaan Kerajaan Bangkalaan juga tebal dengan seni kriya kayu. Pengaruh hubungan kekerabatan yang erat dengan Kesultanan Banjar di Martapura melahirkan mahakarya ukiran kayu ulin pada nisan-nisan makam bangsawan kerajaan, seperti yang terdapat pada kompleks makam bersejarah di Desa Bakau, Pamukan Utara.
Jejak-jejak budaya dan maritim ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa pesisir Kotabaru sejak berabad-abad lalu bukanlah kawasan terisolasi, melainkan poros diplomasi, pusat perdagangan antarnusa, dan benteng kebudayaan yang kaya di Tanah Banua. (jum/mof)
Editor : Arief