RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Perlawanan Pangeran Antasari terhadap kolonial Belanda pada Perang Banjar 1859-1863 tidak hanya mengandalkan senjata tajam dan senapan rampasan.
Di balik perjuangan itu, terdapat wafak, lembaran bertuliskan kaligrafi, angka, dan simbol yang diyakini menjadi penguat mental para pejuang hingga menarik perhatian pemerintah kolonial.
Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mansyur mengatakan, wafak tidak bisa dipandang semata sebagai jimat. Dalam konteks sejarah, benda tersebut menjadi instrumen yang membangun keyakinan dan keberanian laskar Banjar ketika menghadapi pasukan Belanda.
"Wafak itu bukan sekadar coretan acak. Susunan huruf, angka, dan simbol di dalamnya menyimpan syarat dan rahasia. Maknanya hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu yang memegang kuncinya," ujarnya.
Menurutnya, tradisi membuat wafak telah lama berkembang di masyarakat Banjar, terutama di kawasan pahuluan. Wafak dibuat oleh Tuan Guru atau ulama yang memiliki kedalaman ilmu tasawuf dan dipercaya sebagai media perlindungan diri maupun penguat keyakinan.
Bentuknya berupa perpaduan huruf Arab, angka, simbol geometris, dan kaligrafi yang disusun berdasarkan kaidah tertentu. Karena mengandung makna khusus, pembuatannya tidak dilakukan secara sembarangan.
Dalam catatan sejarah, penggunaan wafak sudah muncul jauh sebelum Perang Banjar. Salah satu peristiwa yang tercatat terjadi pada 28 April 1767, ketika sekitar 300 orang Biaju menyerang dan membakar benteng Inggris di Sungai Barito dengan bekal jimat yang diyakini mampu menambah keberanian.
Penggunaan wafak kemudian mencapai puncaknya pada Perang Banjar. Selain Pangeran Antasari, sejumlah tokoh perlawanan seperti Aminullah dan Pangeran Tuanku Ibrahim juga diketahui menggunakannya.
Belanda bahkan memberi perhatian serius terhadap benda tersebut. Pada 1862, perwira militer P.A.C.H.T.H. Werdmüller von Elgg mengumpulkan sejumlah wafak dari medan perang milik para pemimpin perlawanan Banjar.
Dokumentasi itu kemudian dimuat Willem Adriaan van Rees dalam buku De Bandjermasinsche Krijg van 1859-1863 yang terbit pada 1865. Selanjutnya, J.H. Maronier kembali mempublikasikan enam gambar wafak Perang Banjar melalui bukunya Pictures of the Tropics pada 1967.
Mansyur menuturkan, perhatian Belanda terhadap wafak bukan karena menganggapnya memiliki kekuatan gaib, melainkan karena memahami pengaruh psikologis yang ditimbulkan terhadap para pejuang.
Ia mencontohkan serangan di Kampung Moening, wilayah yang kini masuk Kabupaten Tapin. Saat itu, pejabat Belanda Van Schendel dan Kapten Graas disergap laskar Banjar yang membawa tombak serta mengenakan wafak berisi ayat Alquran dan mantra.
Di sisi lain, berkembang pula gerakan sosial-keagamaan Beratib Beamal, yang mendorong masyarakat meminta baiat kepada Tuan Guru sebelum melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Gerakan tersebut diyakini menjadi salah satu faktor yang memperkuat semangat jihad dan solidaritas laskar Banjar dalam menghadapi kolonial.
Meski terdapat perbedaan pendapat mengenai tarekat yang melatarbelakanginya, Mansyur menilai gerakan tasawuf pada masa itu telah berkembang menjadi kekuatan sosial yang menopang perjuangan rakyat Banjar.
"Apa pun nama tarekatnya, yang jelas pada abad ke-19 gerakan tasawuf di Banjarmasin bukan sekadar ajaran spiritual, tetapi telah menjadi gerakan sosial dan perlawanan militan," katanya.
"Belanda sejatinya tidak takut pada kertas jimatnya, melainkan takut pada psikologi massa di baliknya. Fanatisme kepada guru spiritual saat itu mampu menjelma menjadi semangat kolektif untuk melawan penjajah," pungkasnya. (zkr/mof)
Editor : Arief