Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Makam Keramat Istana di Tanah Laut, Jejak Kelam Perebutan Takhta Banjar

Norsalim Yahya • Kamis, 16 Juli 2026 | 10:08 WIB
KOKOH: Gapura yang menjadi pintu masuk ke Makam Keramat Istana Pelaihari
KOKOH: Gapura yang menjadi pintu masuk ke Makam Keramat Istana Pelaihari

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Di bawah rimbunnya pepohonan Kelurahan Karang Taruna, sekitar tujuh kilometer di selatan Kota Pelaihari, berdiri sebuah kompleks pemakaman tua yang menyimpan kisah kelam lebih dari dua abad silam.

Tempat yang kini tenang itu dikenal masyarakat sebagai Makam Keramat Istana, dipercaya sebagai persemayaman Pangeran Ahmad, putra Sultan Tahmidillah I, pewaris takhta Kesultanan Banjar yang memilih hidup bersama rakyat ketimbang berada di lingkaran istana.

Bagi warga Tanah Laut, makam ini bukan sekadar situs sejarah. Ia adalah penanda ingatan kolektif tentang pengkhianatan, perebutan kekuasaan, sekaligus keteladanan seorang bangsawan yang menolak ambisi politik.

“Orang Pelaihari hampir semuanya tahu cerita Pangeran Ahmad. Beliau adalah putra raja yang memilih hidup di tengah masyarakat setelah meninggalkan istana,” tutur Ismail Fahmi, warga setempat.

Kisah Pangeran Ahmad berawal dari masa pemerintahan Sultan Tahmidillah I (1778–1785). Setelah sang sultan wafat, ketiga putranya, Pangeran Abdullah, Pangeran Ahmad, dan Pangeran Muhammad Amir masih belum cukup umur untuk memerintah. Kekuasaan sementara diserahkan kepada Pangeran Wiranata, ipar sang sultan.

Namun, menurut tradisi lisan, kekuasaan yang semula bersifat sementara berubah menjadi perebutan takhta. Ketika para putra mahkota dewasa, singgasana tak kunjung dikembalikan. Situasi semakin genting setelah Pangeran Abdullah meninggal mendadak, yang oleh masyarakat diduga akibat diracun. Bahkan Sultan Tahmidillah I pun dipercaya mengalami nasib serupa.

Merasa tak aman, Pangeran Ahmad dan Pangeran Muhammad Amir meninggalkan istana. Muhammad Amir memilih jalur perlawanan. Ia menghimpun sekitar 3.000 pasukan Bugis di bawah pimpinan Arung Trawe dan berusaha merebut kembali hak keluarganya.

Pasukan itu sempat mendarat di Tabanio sebelum menuju Martapura. Namun, perlawanan gagal setelah pihak istana mendapat bantuan Belanda. Muhammad Amir ditangkap dan diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka) pada 14 Mei 1789, hingga akhir hayatnya.

Berbeda dengan saudaranya, Pangeran Ahmad memilih menjauh dari pusaran politik. Ia menetap di Tanah Laut, hidup sederhana, dan dekat dengan rakyat. “Beliau sudah tidak lagi memikirkan menjadi sultan. Yang beliau lakukan adalah hidup bersama rakyat dan mengayomi mereka,” kata Ismail.

Pilihan itu ternyata tidak membuatnya benar-benar lepas dari bayang-bayang konflik istana. Menurut cerita masyarakat, keberadaan Pangeran Ahmad tetap dianggap sebagai ancaman bagi penguasa saat itu. Pasukan kerajaan kemudian dikirim untuk memburunya hingga ke kawasan Gunung Layang-Layang, dekat Gunung Matah.

Di tempat itulah, sekitar tahun 1808, Pangeran Ahmad dipercaya ditangkap dan dihukum mati dengan cara dipenggal. Kepalanya dibawa ke Martapura, sedangkan jasadnya dimakamkan di lokasi yang kini dikenal sebagai Makam Keramat Istana. “Itulah yang dipercaya masyarakat sebagai asal-usul Makam Keramat Istana yang dikenal masyarakat sekarang,” tutup Ismail. (sal/mof)

Editor : Arief
kesultanan banjar Tanah Laut Sejarah