RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Di tengah upaya pelestarian budaya lokal, Tari Mandau Penyambutan tampil bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan jembatan sejarah yang mengenalkan warisan budaya Dayak kepada generasi muda.
Pelatih tari dari SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah (HST), Nur Ainah, menjelaskan bahwa Tari Mandau berakar dari tradisi masyarakat Dayak di Kalimantan. Nama tarian ini diambil dari mandau, senjata tradisional suku Dayak yang menjadi properti utama dalam setiap pertunjukan.
“Mandau melambangkan keberanian, kehormatan, dan semangat masyarakat Dayak dalam menjaga harga diri,” ujarnya, Senin (13/7).
Pada masa lalu, Tari Mandau lahir dari tradisi peperangan antar suku Dayak. Gerakannya terinspirasi dari keterampilan para prajurit memainkan mandau dan tameng (talawang).
Fungsi awalnya bukan sekadar hiburan, melainkan latihan ketangkasan dan kemampuan menggunakan senjata dalam pertempuran.
Selain itu, tarian ini dipercaya memiliki makna spiritual. Masyarakat Dayak meyakini Tari Mandau dapat memanggil kekuatan gaib serta perlindungan roh leluhur untuk membantu memenangkan peperangan.
Tarian ini menjadi simbol kepahlawanan sekaligus ritual sakral dalam kehidupan masyarakat Dayak. Seiring perkembangan zaman, fungsi Tari Mandau bergeser. Dari simbol peperangan, kini tarian tersebut lebih banyak ditampilkan sebagai tari penyambutan tamu dan pertunjukan budaya.
Menurut Nur Ainah, proses belajar Tari Mandau tidaklah sulit. Generasi muda dapat mencontoh gerakan melalui video referensi di YouTube. Ia berharap para pelajar di HST mau mempelajari dan melestarikan seni tari tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief