RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Tahulah pian, Di Kabupaten Balangan terdapat sebuah desa yang menyimpan sejarah tak biasa di balik namanya, yakni Desa Ambakiang di kecamatan Awayan. Tanpa banyak yang tahu, penamaan desa ini sebenarnya memiliki dua versi cerita tutur yang menceritakan karakter masyarakat masa lampau.
Sejarah mencatat, kawasan Ambakiang awalnya adalah wilayah yang sangat sepi dan hanya dihuni oleh segelintir kepala keluarga. Namun seiring perkembangan zaman, jumlah penduduk terus bertambah. Bukan hanya karena warga asli yang berkembang, tetapi juga masuknya para pendatang yang mengadu nasib dan menetap di desa tersebut.
Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balangan, Halianur, membeberkan makna historis sebelum nama tersebut melekat. Ia menyebut, penamaan wilayah itu murni didasarkan pada sifat kesantunan warga dan karakter perempuan Banjar di masa itu.
"Konon menurut versi pertama, nama Ambakiang diambil dari kata ambak. Dalam bahasa Banjar, ambak berarti ramah namun pendiam. Ini mencerminkan sikap warga asli yang menyambut kedatangan perantau dengan setulus hati," jelas Halianur.
Sementara untuk versi kedua, penamaannya diambil dari sifat para gadis atau kembang desa setempat. Zaman dahulu, gadis-gadis di kawasan ini dikenal memiliki sifat pendiam dan terkadang suka merajuk. Dalam kosakata bahasa Banjar, sifat pendiam atau merajuk itu juga sering disebut dengan istilah ambak.
?"Sedangkan suku kata kiang diyakini merujuk dari kata diang, yakni sapaan akrab untuk anak perempuan dalam tradisi budaya Banjar," tambahnya.
Lantas, bagaimana kata tersebut bisa menjadi Ambakiang? Halianur menuturkan, perpaduan kosa kata bahasa Banjar menjadi dalang utamanya. Sifat pendiam atau suka merajuk itu disebut ambak, sedangkan untuk menyebut anak perempuan digunakan kata diang. "Gabungan dari kata sifat ambak dan sosok diang inilah yang kemudian secara lisan melebur menjadi sebutan Ambakiang," bebernya.
Sekarang, Ambakiang berkembang menjadi desa dengan luas wilayah sekitar 1.052 hektare yang terbagi dalam empat rukun tetangga. Perekonomian penduduknya ditunjang oleh perkebunan dan pertanian dengan sistem berladang. Secara geografis, posisinya diapit oleh Desa Tundakan di utara, Kecamatan Tebing Tinggi di timur, Desa Piyait di selatan, dan Desa Tundi di barat.
Baca Juga: Sejarah Kopiah Putih, Simbol Sudah Haji dan jadi Penanda Dalam Pengawasan Kolonial
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief