Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Di Banjarmasin Dulu Ada Jalan Palm: Belanda Keluar, Diganti jadi Pohon Pinang

M Idris Jian Sidik • Kamis, 2 Juli 2026 | 09:35 WIB
RINDANG: Jejeran pohon palm di Jalan Keramaian di kawasan eks Kantor Gubernur Kalimantan Selatan, Banjarmasin Tengah saat Hindia Belanda.
RINDANG: Jejeran pohon palm di Jalan Keramaian di kawasan eks Kantor Gubernur Kalimantan Selatan, Banjarmasin Tengah saat Hindia Belanda.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Jalan Keramaian di kawasan samping eks Kantor Gubernur Kalimantan Selatan, Banjarmasin Tengah menyimpan sejarah yang tak banyak diketahui masyarakat. 

Sebelum menggunakan nama sekarang, ruas jalan yang menghubungkan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan D.I. Panjaitan itu, dikenal sebagai Palmelaan atau Jalan Palm pada masa kolonial Belanda.

Sejarawan muda Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mansyur menjelaskan, Palmelaan bukan sekadar nama jalan.

Penamaan itu berkaitan dengan konsep penataan lanskap kota yang diterapkan pemerintah kolonial melalui penanaman deretan pohon palma di sepanjang ruas tersebut.

Jalan ini menghubungkan Noordeinde yang kini Jalan Jenderal Sudirman, dengan Heerengracht yang sekarang menjadi Jalan D.I. Panjaitan. Letaknya juga berada di kawasan rumah Residen Banjarmasin sehingga menjadi bagian dari jaringan pemerintahan kolonial.

Berdasarkan arsip dan dokumentasi foto koleksi KITLV, pohon-pohon palm mulai ditanam pada 1878, bertepatan dengan masa pemerintahan Residen J.J. Meijer. Bibit tanaman tersebut didatangkan dari Palembang sebagai bagian dari penataan kawasan sekitar kediaman residen.

Menurut Mansyur, bentuk pohon yang terlihat dalam dokumentasi kolonial memiliki batang besar dan pendek dengan bekas pelepah yang rapat. Sejumlah sumber menduga pohon tersebut merupakan Elaeis guineensis atau kelapa sawit Afrika yang saat itu menjadi identitas visual Palmelaan.

Dokumentasi KITLV juga menunjukkan Palmelaan berada di sisi selatan hingga belakang rumah Residen Banjarmasin.

Kondisi itu memperlihatkan bahwa jalan tersebut bukan hanya berfungsi sebagai penghubung, tetapi juga menjadi elemen penting dalam rancangan lanskap kawasan pemerintahan kolonial.

Seiring waktu, identitas jalan itu ikut berubah. Pada masa Hindia Belanda jalan tersebut bernama Palmelaan.

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942–1945, namanya berganti menjadi Muraoka Dori. Setelah Indonesia merdeka, ruas jalan itu kemudian dikenal sebagai Jalan Keramaian. "Perubahan nama mencerminkan pergantian kekuasaan, dari Belanda, kemudian Jepang, hingga Indonesia," ujar Mansyur.

Perubahan tidak hanya terjadi pada nama jalan. Deretan pohon palm yang dahulu menjadi ciri khas Palmelaan kini sudah tidak lagi ditemukan. Sebagai gantinya, masih terdapat pohon-pohon pinang yang tumbuh di sepanjang kawasan tersebut.

Mansyur menjelaskan, pohon pinang memang masih satu famili dengan palma, tetapi bukan tanaman asli yang dahulu ditanam pemerintah kolonial. Meski demikian, keberadaannya tetap menghadirkan kesan visual yang mengingatkan pada lanskap Palmelaan.

Kini Jalan Keramaian juga tidak lagi menjadi kawasan yang seramai ketika pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan masih berada di sekitarnya. Setelah aktivitas pemerintahan berpindah ke Banjarbaru, kawasan tersebut menjadi lebih tenang.

Menurut Mansyur, jejak sejarah jalan itu belum benar-benar hilang. Arsip foto, perubahan nama hingga lanskap yang masih tersisa, menjadi pengingat bahwa Jalan Keramaian merupakan bagian dari perjalanan panjang perkembangan Kota Banjarmasin selama lebih dari satu abad.

"Perubahan nama boleh terjadi mengikuti zaman, tetapi sejarah yang melekat pada sebuah tempat tidak ikut hilang. Itu yang membuat Jalan Keramaian tetap penting untuk dikenang," pungkasnya. (bir/mof)

Editor : Arief
#belanda #Tata Kota #jalan #banjarmasin #Sejarah