RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Jika kita menengok lanskap pesisir tenggara Kalimantan Selatan, kawasan ini tidak hanya menyimpan pesona alam yang memukau. Di balik tenangnya ombak, tersimpan guratan sejarah panjang tentang sebuah peradaban besar yang pernah berjaya, yaitu Kerajaan Cantung.
Kini, pusat kerajaan yang dulunya megah itu berada di Desa Banua Lawas, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru. Sisa-sisa kejayaan masa lalu itu masih bisa disaksikan melalui Kompleks Pemakaman Raja-Raja Banjar.
Pemerhati sejarah dan budaya Kotabaru, Saijul Kurnain mengatakan, situs ini menjadi saksi bisu sekaligus bukti otentik betapa eratnya jalinan hubungan darah dan politik antara penguasa pesisir tenggara dengan Kesultanan Banjar di masa lampau.
Eksistensi kerajaan di wilayah ini tidak muncul instan. Akarnya bermula pada abad ke-17, saat Sultan Banjar, Sultan Saidullah, memberikan mandat wilayah swatantra kepada keturunannya, Pangeran Dipati Tuha (Raden Sari).
Wilayah pemberian inilah yang bertransformasi menjadi entitas politik besar bernama Kerajaan Tanah Bumbu. Dengan pusat pemerintahan awal di tepi Sungai Bumbu sekarang masuk wilayah Kecamatan Sampanahan.
Memasuki masa keemasan di bawah kepemimpinan Ratu Mas, peta geopolitik berubah. Pasca-era Ratu Mas, wilayah Tanah Bumbu yang luas dibagi-bagi kepada para keturunannya agar pengelolaan lebih efektif. Dari rahim pembagian wilayah inilah lahir Kerajaan Cantung dan Kerajaan Batulicin.
Berdasarkan kesepakatan keluarga istana, tampuk kepemimpinan perdana wilayah pecahan ini diserahkan kepada seorang perempuan tangguh. Ia adalah Ratu Intan I.
Bagi masyarakat Kelumpang Hulu, Desa Banua Lawas adalah ruang historis yang sakral, pada 1 Juni 1867, sebuah keputusan besar diambil untuk memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Cantung ke Desa Banua Lawas.
Sejak tanggal keramat itu, Banua Lawas resmi menyandang status sebagai ibu kota kerajaan. Di kawasan yang kini sunyi dan bersahaja ini, dulunya berdiri megah kompleks istana yang menjadi pusat urusan politik, pemerintahan, dan kemasyarakatan.
Akibat gempuran waktu dan dinamika kolonial, bangunan istana itu kini telah tiada, menyisakan kompleks pemakaman sebagai penanda utamanya.
Di balik sejarahnya yang besar, di Kompleks Pemakaman Banua Lawas ini, peziarah tidak akan menemukan makam Raja Cantung ke-5, Pangeran Kusuma Negara. Pasalnya, pada tahun 1897 sang raja ditangkap lalu diasingkan jauh ke pulau seberang, Bondowoso, Jawa Timur. “Di tanah asing itulah beliau menghabiskan sisa usianya dalam pengawasan ketat. Beliau wafat pada tahun 1929 dan dikebumikan di sana, jauh dari bumi pesisir Cantung yang dicintainya,” terang Saijul.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief