RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KANDANGAN - Di Desa Wasah Hilir, Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), berdiri sebuah masjid tua yang tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menyimpan sejarah panjang perkembangan Islam di Banua.
Masjid Su'ada atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Masjid Baangkat menjadi salah satu ikon Kabupaten HSS yang hingga kini masih berdiri kokoh. Usianya telah melampaui satu abad, namun pesonanya tetap terjaga dan terus menarik perhatian para peziarah maupun musafir yang melintas.
Dibangun Ulama Keturunan Datu Kelampayan
Juru Pelihara Masjid Baangkat, Badrul Kamal, menuturkan masjid ini dibangun pada tahun 1908 oleh Datu Abbas bersama keponakannya, Datu Muhammad Sa'id.
Keduanya merupakan keturunan ulama besar Kalimantan Selatan, Datu Kelampayan atau Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
"Datu Abbas dan Datu Taniran adalah sepupu sekaligus buyut Datu Kelampayan. Sedangkan Datu Muhammad Sa'id adalah anak Datu Taniran, sehingga beliau merupakan cicit Datu Kelampayan," jelas Badrul.
Tak hanya berperan sebagai pendiri, Datu Muhammad Sa'id juga terlibat langsung dalam pembangunan masjid.
Menurut Badrul, selain dikenal sebagai ulama, Datu Muhammad Sa'id memiliki kemampuan di bidang pertukangan sehingga dipercaya menjadi kepala tukang dalam pembangunan Masjid Baangkat.
Arsitektur Asli yang Bertahan Lebih dari Satu Abad
Salah satu keistimewaan Masjid Baangkat adalah bentuk bangunannya yang nyaris tidak berubah sejak pertama kali didirikan.
Masjid ini dibangun menggunakan kayu ulin, material khas Kalimantan yang terkenal kuat dan tahan terhadap perubahan cuaca.
"Sebanyak 95 persen bangunan masih asli. Hanya ada penambahan teras, sedangkan bentuk utama bangunan tetap seperti semula," kata Badrul.
Ciri khas lainnya terlihat pada bentuk atap bertumpang tiga yang menjadi identitas masjid-masjid tua di Kalimantan Selatan.
Pada bagian utama, kubah berbentuk piramida segitiga, sementara kubah di area mihrab berbentuk belimbing.
Keindahan masjid semakin terasa melalui ukiran kayu bermotif sulur daun yang menghiasi berbagai bagian bangunan.
Menurut Badrul, motif tersebut mengandung filosofi pertumbuhan dan kemakmuran.
"Maknanya agar masjid terus berkembang dan selalu makmur oleh aktivitas ibadah masyarakat," ujarnya.
Di bagian sudut atap juga terdapat ornamen jamang yang menjadi ciri khas arsitektur Banjar, serupa dengan hiasan pada Rumah Adat Bubungan Tinggi.
Asal-usul Nama Masjid Su'ada dan Masjid Baangkat
Nama Su'ada merupakan nama yang diberikan langsung oleh Datu Abbas.
Kata tersebut berasal dari bahasa Arab yang berarti keberuntungan.
Harapannya, setiap orang yang datang dan beribadah di masjid ini memperoleh keberuntungan, baik di dunia maupun akhirat.
Sementara itu, penyebutan Masjid Baangkat memiliki dua versi cerita yang berkembang di tengah masyarakat.
Versi pertama berkaitan dengan kisah karamah Datu Abbas saat pembangunan masjid.
Dikisahkan, ketika empat tiang utama masjid hendak dipancangkan, Datu Abbas meminta 15 laki-laki dan seorang perempuan yang sedang mengandung untuk membantu menarik tiang menggunakan tali.
Namun setelah Datu Abbas membacakan salawat, keempat tiang tersebut disebut berdiri dan tertancap sendiri ke dalam tanah.
"Sebelum tali ditarik kuat, tiang itu sudah berdiri dan memancang sendiri. Peristiwa itu diyakini sebagai salah satu karamah Datu Abbas," tutur Badrul.
Versi kedua lebih merujuk pada bentuk fisik bangunan.
Masjid ini dibangun dengan model rumah panggung khas Banjar yang lantainya terangkat dari permukaan tanah dan ditopang empat tiang utama.
Karena itulah masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Masjid Baangkat atau masjid yang terangkat.
Markas Perjuangan Melawan Penjajah
Masjid Baangkat tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan.
Pada masa penjajahan Belanda, masjid ini juga berfungsi sebagai tempat berkumpul para pejuang yang bergerilya di wilayah Simpur.
Di tempat inilah para tokoh dan pejuang daerah menyusun strategi perjuangan untuk melawan penjajah.
"Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga digunakan para pejuang untuk bermusyawarah dan mengatur strategi perjuangan," ungkap Badrul.
Menjadi Ikon Kabupaten Hulu Sungai Selatan
Nilai sejarah yang dimiliki Masjid Baangkat membuat bangunan ini diabadikan sebagai salah satu simbol dalam lambang daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Keberadaannya menjadi representasi kuat identitas religius dan sejarah masyarakat HSS.
"Kalau tidak salah sejak tahun 1957 masjid ini dijadikan ikon dalam lambang daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan," katanya.
Destinasi Wisata Religi yang Tak Pernah Sepi
Lebih dari satu abad berdiri, Masjid Baangkat tetap hidup dan makmur.
Selain menjadi pusat ibadah masyarakat setempat, masjid ini juga berkembang menjadi salah satu destinasi wisata religi favorit di Kalimantan Selatan.
Lokasinya yang berada tepat di tepi jalan utama penghubung antarkabupaten membuat banyak musafir memilih singgah untuk beristirahat maupun menunaikan salat.
Didukung fasilitas yang lengkap dan suasana yang nyaman, Masjid Baangkat terus menjadi persinggahan favorit sekaligus saksi bisu perjalanan sejarah Islam di Banua yang tetap lestari hingga hari ini.
Editor : Eddy Hardiyanto