TAHULAH Pian. Hubungan Presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno dengan Kalimantan Selatan ternyata memiliki jejak sejarah yang cukup panjang. Dalam rentang satu dekade, tepatnya pada 1950 hingga 1960, Sang Proklamator tercatat sedikitnya tujuh kali melakukan kunjungan ke Bumi Lambung Mangkurat
Sejarawan muda Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur, menyebut intensitas kunjungan tersebut menunjukkan besarnya perhatian Bung Karno terhadap Kalimantan Selatan pada masa awal kemerdekaan. “Kalau merujuk dokumentasi sejarah, rata-rata Bung Karno datang ke Kalimantan Selatan setiap dua tahun sekali . Setidaknya ada enam sampai tujuh kunjungan besar yang terekam kuat dan membawa pengaruh besar bagi daerah ini,” ungkapnya.
Menurutnya, setiap kedatangan Bung Karno selalu disambut antusias masyarakat. Ribuan warga dari berbagai daerah, termasuk wilayah Hulu Sungai, rela datang untuk mengikuti apel akbar maupun rapat raksasa yang digelar selama kunjungan presiden. “Setiap kali datang selalu ada apel akbar atau rapat umum yang dihadiri massa dalam jumlah besar. Pidato Bung Karno juga selalu menjadi bahan pembicaraan dan diskusi para tokoh daerah,” katanya.
Kunjungan pertama Bung Karno ke Kalimantan Selatan berlangsung pada 13-16 September 1950, tidak lama setelah pembubaran Republik Indonesia Serikat (RIS) dan kembalinya Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Saat itu, Soekarno mengunjungi Banjarmasin dan sejumlah wilayah Hulu Sungai, untuk menjelaskan makna kemerdekaan kepada masyarakat yang baru memasuki era kedaulatan penuh. Salah satu momen yang dikenang dalam lawatan tersebut adalah saat Bung Karno mengikuti arak-arakan perahu di sungai-sungai Banjarmasin, sebelum menghadiri apel akbar yang dipadati masyarakat.
Dua tahun kemudian, tepatnya 25 Januari 1953, Bung Karno kembali datang ke Kalimantan Selatan. Kunjungan kali ini menjangkau sejumlah daerah seperti Martapura, Kandangan, Negara, Barabai hingga Amuntai. Menurut Mansyur, lawatan tersebut berlangsung di tengah menghangatnya perdebatan mengenai dasar negara.
Di Amuntai, Bung Karno menyampaikan pidato yang menekankan pentingnya persatuan bangsa dan Pancasila. “Salah satu yang paling dikenang adalah pidato beliau di Amuntai yang menyinggung hubungan agama dan negara serta pentingnya menjaga persatuan,” jelasnya.
Pada 10 Desember 1955, Bung Karno kembali mendarat di Lapangan Terbang Ulin yang kini menjadi Bandara Internasional Syamsudin Noor. Fokus kunjungan ketiganya lebih banyak diarahkan kepada generasi muda.
Dalam rapat umum di Banjarmasin, Bung Karno memberikan pesan kepada para pelajar tentang peran pemuda dalam mengisi kemerdekaan. Ia juga menyempatkan diri mengunjungi Perkampungan Pelajar Mulawarman.
Kunjungan berikutnya berlangsung pada 14-18 Juli 1957. Saat itu Banjarmasin menjadi titik keberangkatan Bung Karno menuju Pahandut, wilayah yang kini menjadi Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Agenda utama presiden adalah peletakan batu pertama ibu kota Kalimantan Tengah.
Untuk mencapai lokasi tersebut, Soekarno menempuh perjalanan panjang melalui jalur sungai dari Banjarmasin menuju pedalaman. “Beliau rela menempuh perjalanan air yang jauh dan melelahkan untuk menemui rakyat sekaligus meletakkan fondasi pembangunan,” terang Mansyur.
Pada 25 Januari 1958, Bung Karno kembali menyambangi Banjarmasin dan Negara. Kunjungan itu dilakukan di tengah dinamika politik nasional yang memasuki masa transisi.
Dalam kesempatan tersebut, presiden kembali menyampaikan pidato kebangsaan guna memperkuat hubungan antara pemerintah pusat dan masyarakat daerah.
Setahun berselang, tepatnya 7 September 1959, Bung Karno kembali hadir di Banjarmasin setelah keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang menandai dimulainya era Demokrasi Terpimpin. Salah satu agenda penting dalam kunjungan itu adalah mendatangi Universitas Lambung Mangkurat yang saat itu masih berstatus perguruan tinggi swasta. Bung Karno berpidato di hadapan mahasiswa dan civitas akademika mengenai pentingnya pemikiran revolusioner.
Kunjungan terakhir pada dekade tersebut berlangsung pada 31 Oktober hingga 2 November 1960. Lawatan ini menjadi salah satu yang paling bersejarah karena diwarnai penegerian Universitas Lambung Mangkurat. Selain menghadiri apel akbar, Bung Karno juga meninjau rencana pembangunan Pelabuhan Trisakti, melakukan perjalanan menyusuri sungai, berziarah ke Taman Makam Pahlawan Bumi Kencana serta menghadiri malam kesenian. “Warisan kunjungannya, mulai dari penegerian ULM hingga pembangunan infrastruktur transportasi, masih bisa dirasakan oleh masyarakat sampai hari ini,” pungkasnya.
Editor : Arief