Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Desa Sumber Mulia Tanah Laut: Berawal dari Padang Ilalang, Begini Sejarah Panjangnya

Norsalim Yahya • Kamis, 18 Juni 2026 | 08:08 WIB
TERUS BERKEMBANG: Kantor Desa Sumber Mulia, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.
TERUS BERKEMBANG: Kantor Desa Sumber Mulia, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Desa Sumber Mulia, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala) memiliki sejarah panjang yang bermula dari kawasan padang ilalang yang minim fasilitas pada akhir 1970-an. Berkat perjuangan para perintis dan semangat gotong royong masyarakat, wilayah yang dulunya terpencil itu berkembang menjadi desa yang terus tumbuh hingga saat ini.

Salah satu tokoh masyarakat setempat, Supriyanto menuturkan, Desa Sumber Mulia pada awalnya merupakan bagian dari Desa Tampang dan berada di bawah wilayah Kecamatan Pelaihari.

Sekitar tahun 1977, kawasan yang kini menjadi Desa Sumber Mulia masih berupa hamparan padang ilalang dengan akses jalan setapak. Saat itu belum tersedia penerangan listrik maupun sarana transportasi yang memadai.

Pada tahun yang sama, sejumlah perantau mulai datang dan membuka lahan di kawasan tersebut. Mereka antara lain Sukimin, Jarwo, dan Abdullah beserta keluarga mereka masing-masing. Setahun kemudian juga ada pendatang lainnya seperti Wongso, Sucipto, Bapak Poniti, Iswiyaryo, dan Suyono bersama keluarga. Semakin menambah jumlah penduduk.

Selain para pendatang, wilayah tersebut juga dihuni masyarakat setempat (pribumi), di antaranya Kai Bilal (H Hasan) atau Tikacil, Muhammad Yunan, dan Ahmad Syafi’i, kemudian Marsani, Samsi, Bukhori, Sulaiman, Raudah, Sumrah, Wiryo, Sugiatno, Ali, Yatimin, Busro dan yang lainnya.

Konon Haji Hasan yang dikenal sebagai salah satu tokoh masyarakat pernah menyampaikan bahwa kawasan itu telah beberapa kali dicoba dibuka sebagai perkampungan. Namun, selalu gagal berkembang. “Jika para perantau mampu bertahan selama satu tahun, maka tempat ini akan menjadi sebuah desa,” ungkap Supriyanto.

Kondisi kehidupan pada masa awal tergolong sulit. Sebagian besar warga datang dengan bekal yang terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat sering mengambil bahan makanan secara kasbon di warung milik Salman dan membayarnya setelah memperoleh hasil dari pekerjaan mereka.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk, para tokoh masyarakat bersama Kepala Padang saat itu mengadakan musyawarah guna mengatur pembagian lahan. Dalam kesepakatan tersebut, warga yang mengambil tanah diwajibkan membuka akses jalan serta mengelola lahannya agar tidak ditelantarkan.

Gagasan pembentukan desa kemudian muncul dalam berbagai pertemuan warga. Sejumlah nama sempat diusulkan, di antaranya Sidodadi, Sumber Agung, Sumber Makmur, dan Sumber Mulia. Setelah melalui musyawarah, masyarakat akhirnya memilih nama Sumber Mulia.

“Nama tersebut dipilih karena di kawasan itu terdapat sumber mata air yang tetap mengalir meskipun musim kemarau panjang. Sumber air tersebut menjadi penopang utama kehidupan masyarakat sehingga dianggap layak menjadi identitas desa,” katanya.

Kesepakatan penamaan desa diikrarkan oleh Wongso bersama masyarakat di tengah kawasan kampung yang kemudian dikenal sebagai lokasi Proklamasi Desa Sumber Mulia. Setelah itu, warga mulai menyiapkan berbagai fasilitas umum, termasuk lahan pemakaman dan pusat pemerintahan desa.

Dengan dana swadaya dan semangat gotong royong, masyarakat membangun balai desa sederhana dari kayu hutan yang digunakan sebagai tempat musyawarah. Balai tersebut menjadi cikal bakal pusat pemerintahan Desa Sumber Mulia.

“Peresmian desa kemudian dilaksanakan dengan mengundang Bupati Tala saat itu, Sumarsono, serta Camat Pelaihari, Basir. Dalam kesempatan tersebut, masyarakat menyampaikan berbagai usulan pembangunan, antara lain pembangunan sekolah, fasilitas kesehatan, dan jalan desa,” terangnya.

Setelah desa berdiri, masyarakat kembali bergotong royong membangun pasar tradisional sebagai pusat kegiatan ekonomi warga. Aktivitas perdagangan mulai berkembang dan menjadi salah satu penunjang kehidupan masyarakat desa.

Perjuangan para pendiri akhirnya membuahkan hasil ketika pada 9 Januari 1982 terbit Surat Keputusan Persiapan Desa Definitif. Selanjutnya, pada 21 Mei 1983, Pemprov Kalsel menerbitkan Surat Keputusan Gubernur Nomor 121 Tahun 1983 yang menetapkan Desa Sumber Mulia sebagai desa definitif.

Supriyanto mengatakan, sejarah berdirinya desa menjadi pengingat bagi generasi muda untuk terus menjaga persatuan, semangat gotong royong, dan nilai musyawarah yang telah diwariskan para pendahulu.

“Perjuangan para pendiri desa harus menjadi inspirasi bagi generasi sekarang untuk terus membangun Desa Sumber Mulia agar semakin maju tanpa melupakan sejarah dan nilai-nilai kebersamaan,” tutupnya. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#asal usul #kalimantan selatan #Tanah Laut #Desa #Sejarah