RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Perjalanan panjang menuju lahirnya Kabupaten Tanah Bumbu bukanlah proses singkat. Cita-cita untuk memekarkan wilayah ini telah bergulir sejak akhir 1950-an, jauh sebelum Tanah Bumbu resmi berdiri sebagai kabupaten pada 2003.
Dalam buku Perjalanan Panjang Lahirnya Kabupaten Tanah Bumbu karya Suyana, dijelaskan bahwa gagasan pemekaran muncul karena kendala administratif yang dialami masyarakat. Jarak yang jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Kotabaru, ditambah pemisahan wilayah oleh lautan, membuat pelayanan publik sulit dijangkau.
Keyakinan bahwa Tanah Bumbu layak menjadi daerah mandiri juga ditopang oleh kualitas sumber daya manusianya. Jauh sebelum kemerdekaan, Pagatan dikenal sebagai daerah yang menaruh perhatian besar terhadap pendidikan.
Di tengah masyarakat berkembang prinsip bahwa keberhasilan seseorang tak hanya diukur dari banyaknya harta. Seseorang belum dianggap berhasil apabila belum mampu menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin.
Tradisi itu kemudian melahirkan generasi terdidik dari Tanah Bumbu. Salah satunya Tadjoeddin Noor, politikus nasionalis kelahiran Pagatan pada 1906 yang pernah menjabat Ketua Parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) serta Wakil Juru Bicara DPR Sementara (DPRS) RI periode 1950–1956.
Selain Tadjoeddin Noor, Tanah Bumbu juga melahirkan KH Idham Chalid. Putra Satui itu pernah menjabat Wakil Perdana Menteri Indonesia, Ketua DPR, dan Ketua MPR.
Proses pergerakan ini berawal dari tempat yang sederhana, yaitu sebuah gudang penyimpanan ikan kering milik seorang saudagar bernama Aini Utuh di Pagatan. Di tempat tersebut, para mantan pejuang Angkatan 45, ulama, dan kaum terpelajar berkumpul menggelar pertemuan sejak tahun 1959.
Dari rangkaian diskusi itulah lahir gagasan untuk membentuk Panitia Penuntut (Pantut) Kabupaten Tanah Bumbu. Gerakan ini kemudian dikonsolidasikan dalam pertemuan yang lebih besar di Gedung Sekolah Rakyat Pasar Baru, Pagatan.
Dalam forum tersebut, muncul sosok Ilham Djafrie yang menegaskan bahwa status kabupaten harus diperjuangkan secara terorganisasi melalui dukungan masyarakat luas. Ia kemudian terpilih sebagai ketua panitia, didampingi Abdul Rahim Ganie sebagai sekretaris dan Aini Utuh sebagai bendahara.
Perjuangan mereka tidak selalu berjalan mulus. Ilham Djafrie bahkan sempat dipanggil oleh Kapolres Kotabaru karena aktivitas panitia dikhawatirkan mengganggu stabilitas keamanan daerah, meski akhirnya aparat memahami tujuan gerakan setelah mendapat penjelasan.
Selain tantangan tersebut, panitia juga menghadapi kendala finansial karena dana perjuangan yang sangat terbatas. Para anggota akhirnya sepakat untuk mengumpulkan dana secara patungan dan mencari bantuan dari para dermawan demi kelancaran operasional di tengah keterbatasan transportasi kala itu.
Namun, di tengah situasi sulit tersebut, Ilham Djafrie memiliki keyakinan besar bahwa suatu hari nanti Tanah Bumbu akan menjadi salah satu daerah terkaya di Kalimantan Selatan.
Dasar keyakinan itu adalah sebuah buku berbahasa Belanda yang pernah dibacanya. Buku tersebut mencatat bahwa wilayah Tanah Bumbu menyimpan kekayaan alam yang melimpah, mulai dari kayu, batu bara, emas, platina, hingga minyak bumi.
Prediksi yang terdengar berlebihan pada tahun 1960 tersebut akhirnya terbukti puluhan tahun kemudian, seiring dengan perkembangan pesat industri pertambangan di daerah ini.
Karena besarnya harapan terhadap masa depan daerah, Ilham Djafrie dan rekannya, Mahmud A., pernah berdoa agar diberi umur panjang hingga bisa menyaksikan berdirinya kabupaten tersebut.
Harapan itu terkabul, meskipun tidak sepenuhnya bagi mereka berdua. Ketika Tanah Bumbu resmi disahkan menjadi kabupaten pada tahun 2003, Ilham Djafrie masih sempat menyaksikan terwujudnya cita-cita tersebut sebelum wafat pada Januari 2005. Sementara itu, Mahmud A. telah lebih dahulu meninggal dunia sebelum wilayah ini resmi mekar.
Abdurrasyid, tokoh masyarakat Tanah Bumbu, menyebut pemekaran dari Kabupaten Kotabaru merupakan pilihan untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Selama menjadi kecamatan, tidak akan berkembang,” kata anggota Pantut itu.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief