Sejarah Pembentukan Panitia Penuntut Pertama yang Berjuang Lahirkan Kabupaten Tanah Bumbu
Zulqarnain Radar Banjarmasin• Selasa, 16 Juni 2026 | 12:57 WIB
SIMBOL: Tugu Pahlawan 7 Februari di Kota Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir. Di kota inilah Panitia Penuntut dibentuk untuk memperjuangkan lahirnya Kabupaten Tanah Bumbu. (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Batulicin - Tahulah Pian, perjuangan membentuk Kabupaten Tanah Bumbu ternyata sudah dimulai lebih dari 40 tahun sebelum daerah ini resmi berdiri?
Dalam buku "Perjalanan Panjang Lahirnya Kabupaten Tanah Bumbu" karya Suyana dijelaskan, cita-cita membentuk kabupaten sudah tumbuh sejak akhir 1950-an.
Masyarakat Tanah Bumbu saat itu menghadapi kendala administratif karena jarak yang jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Kotabaru.
Kondisi tersebut diperberat oleh letak kedua wilayah yang dipisahkan oleh lautan.
Keyakinan bahwa Tanah Bumbu layak menjadi daerah mandiri juga ditopang kualitas SDM-nya. Jauh sebelum kemerdekaan, Pagatan dikenal menaruh perhatian besar terhadap pendidikan.
Di tengah masyarakat berkembang prinsip: keberhasilan seseorang tak hanya diukur dari harta. Seseorang belum dianggap berhasil bila belum mampu menyekolahkan anak setinggi mungkin.
Tradisi itu melahirkan generasi terdidik. Salah satunya Tadjoeddin Noor, politikus nasionalis kelahiran Pagatan 1906 yang pernah jadi Ketua Parlemen Negara Indonesia Timur/NIT dan Wakil Juru Bicara DPRS RI 1950–1956.
Tanah Bumbu juga melahirkan KH Idham Chalid. Putra Satui itu pernah menjabat Wakil Perdana Menteri Indonesia, Ketua DPR, dan Ketua MPR.
Gudang Ikan Aini Utuh, Titik Awal Pergerakan
Proses pergerakan berawal dari tempat sederhana: gudang penyimpanan ikan kering milik saudagar Aini Utuh di Pagatan.
Di tempat itu, para mantan pejuang Angkatan '45, ulama, dan kaum terpelajar berkumpul sejak 1959. Dari rangkaian diskusi lahir gagasan membentuk Panitia Penuntut/Pantut Kabupaten Tanah Bumbu.
Gerakan dikonsolidasikan di pertemuan besar Gedung Sekolah Rakyat Pasar Baru, Pagatan. Muncul sosok Ilham Djafrie yang menegaskan status kabupaten harus diperjuangkan terorganisasi lewat dukungan masyarakat.
Ia terpilih jadi ketua panitia, didampingi Abdul Rahim Ganie sebagai sekretaris dan Aini Utuh sebagai bendahara.
Dipanggil Kapolres hingga Patungan Dana Perjuangan
Perjuangan tak selalu mulus. Ilham Djafrie sempat dipanggil Kapolres Kotabaru karena aktivitas panitia dikhawatirkan ganggu stabilitas. Setelah dijelaskan, aparat akhirnya memahami tujuan gerakan.
Kendala lain: dana perjuangan sangat terbatas. Anggota sepakat patungan dan cari bantuan dermawan demi operasional di tengah keterbatasan transportasi.
Di tengah situasi sulit, Ilham Djafrie punya keyakinan besar. Suatu hari Tanah Bumbu akan jadi daerah terkaya di Kalsel.
Keyakinan itu berdasar buku berbahasa Belanda yang ia baca. Buku itu mencatat Tanah Bumbu kaya SDA: kayu, batu bara, emas, platina, hingga minyak bumi.
Prediksi yang terdengar berlebihan tahun 1960 itu akhirnya terbukti puluhan tahun kemudian seiring pesatnya industri pertambangan.
Doa yang Terkabul, Tanah Bumbu Resmi Mekar 2003
Karena besar harapan, Ilham Djafrie dan H. Mahmud A. pernah berdoa diberi umur panjang agar bisa menyaksikan berdirinya kabupaten.
Harapan terkabul, meski tak sepenuhnya. Saat Tanah Bumbu disahkan jadi kabupaten tahun 2003, Ilham Djafrie masih sempat menyaksikan sebelum wafat Januari 2005. Sementara H. Mahmud A. lebih dulu meninggal.
H. Abdurrasyid, tokoh masyarakat Tanah Bumbu sekaligus anggota Pantut, menyebut pemekaran dari Kotabaru pilihan tepat untuk percepat pembangunan.
"Selama menjadi kecamatan, tidak akan berkembang," katanya.