Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gedung Syarikat Islam di Barabai, Peresmiannya Dihadiri HOS Tjokroaminoto

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Selasa, 16 Juni 2026 | 09:53 WIB
PENINGGALAN: Gedung Syarikat Islam di Barabai sudah ada sejak zaman kolonial. (Foto: Jamaluddin/Radar Banjarmasin).
PENINGGALAN: Gedung Syarikat Islam di Barabai sudah ada sejak zaman kolonial. (Foto: Jamaluddin/Radar Banjarmasin).

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Di tepi Sungai Barabai, tepatnya di Jalan Brigjen H Hasan Baseri, masih berdiri kokoh sebuah bangunan tua yang menjadi saksi perjalanan sejarah masyarakat Hulu Sungai Tengah (HST). Bangunan itu adalah Gedung Syarikat Islam yang didirikan pada 1921 pada masa kolonial Belanda.

Meski telah berusia lebih dari satu abad, gedung tersebut masih mempertahankan bentuk aslinya dan hingga kini digunakan masyarakat sebagai surau atau musala untuk kegiatan ibadah.

Wakil Ketua Dewan Kesenian Kabupaten HST, Masruswian, mengatakan Gedung Syarikat Islam memiliki nilai sejarah yang tinggi karena menjadi pusat aktivitas organisasi Syarikat Islam yang berkembang pesat di Barabai pada awal abad ke-20.

Menurutnya, berdasarkan cerita para orang tua terdahulu, peresmian gedung tersebut dihadiri langsung oleh tokoh-tokoh nasional yang berpengaruh pada masa itu, yakni Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto dan Abikoesno Cokrosuyoso. “Peresmian tersebut dihadiri HOS Tjokroaminoto yang merupakan pemimpin Sarekat Islam dan Abikoesno Cokrosuyoso yang kemudian dikenal sebagai salah satu pendiri Republik Indonesia,” ujar Masruswian, Senin (15/6)

Syarikat Islam saat itu mendapat sambutan luas dari masyarakat Barabai karena memperjuangkan nilai-nilai sosial, ekonomi, pendidikan, dan agama. Organisasi tersebut juga dikenal dengan semboyan “Berani karena benar, takut karena salah”.

Perjuangan yang dibawa Syarikat Islam dinilai sejalan dengan kondisi masyarakat yang hidup di bawah penjajahan kolonial Belanda. Dukungan datang dari berbagai kalangan, termasuk para pedagang Banjar yang memiliki hubungan dengan jaringan perdagangan di Pulau Jawa.

Masruswian menuturkan, bangunan bersejarah itu tidak banyak mengalami perubahan sejak pertama kali didirikan. Renovasi hanya dilakukan pada beberapa bagian yang rusak akibat usia, tanpa menghilangkan bentuk dan unsur asli bangunan. “Sejak awal dibangun hingga sekarang, bentuk utama gedung masih dipertahankan oleh masyarakat,” katanya.

Pesatnya perkembangan Syarikat Islam di Barabai pada masa itu sempat menimbulkan kekhawatiran pemerintah Hindia Belanda. Pengawasan terhadap aktivitas organisasi semakin diperketat hingga akhirnya pergerakannya perlahan mengalami kemunduran.

Keberadaan Gedung Syarikat Islam juga tidak terlepas dari sosok Habib Alwi bin Abdullah Al-Habsyi yang menjadi salah satu pendiri sekaligus sekretaris organisasi tersebut.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#hulu sungai tengah #kalimantan selatan #Bangunan Bersejarah #islam #Sejarah