Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gubernur Soebardjo Soerosarojo, Pernah Jadi Gubernur Temuda Pada Masanya

Sheilla Farazela • Kamis, 11 Juni 2026 | 10:07 WIB
Teks foto: GUBERNUR TERMUDA: Gubernur Subardjo Soerosarojo saat menyambut kedatangan Presiden Soeharto di Kalimantan Selatan. (Koleksi Wajidi)
Teks foto: GUBERNUR TERMUDA: Gubernur Subardjo Soerosarojo saat menyambut kedatangan Presiden Soeharto di Kalimantan Selatan. (Koleksi Wajidi)

 

TAHULAH Pian. Dekade 1970–1980 tercatat sebagai masa transformasi besar bagi Provinsi Kalimantan Selatan. Di bawah kepemimpinan Brigadir Jenderal (Anumerta) Subardjo Soerosarojo, Kalsel tidak hanya berbenah dari sisi infrastruktur, tetapi juga mencetak sejarah monumental di sektor pangan.

Subardjo resmi dilantik sebagai Gubernur Kalimantan Selatan pada tahun 1970, saat berusia 42 tahun dengan pangkat Kolonel. Pria kelahiran Solo, 28 Februari 1928, ini dikenal sebagai gubernur termuda di masanya.

Meski berlatar belakang militer dengan rekam jejak heroik,  mulai dari gerilya melawan Belanda di Yogyakarta hingga penumpasan gerombolan di Kalimantan Timur, Subardjo tampil sebagai pemimpin dengan visi pembangunan yang modern.

Selama dua periode kepemimpinan (1970–1980), Subardjo meletakkan fondasi modernisasi Kalsel yang berpengaruh hingga kini. Salah satu capaian paling monumental adalah keberhasilan Kalimantan Selatan mencapai surplus produksi beras untuk pertama kalinya.

Sinergi erat antara aparat pemerintah dan petani menjadikan Bumi Lambung Mangkurat kala itu, diperhitungkan di tingkat nasional.

Program transmigrasi juga digencarkan. Sekitar 25 ribu transmigran asal Pulau Jawa didatangkan untuk memperkuat sektor agraris. “Beliau memiliki otak encer dan leadership mumpuni,” tulis pengamat sejarah Mursalin dalam buku Profil Gubernur Kalimantan Selatan dari P.M. Noor sampai Sahbirin Noor.

Subardjo tidak hanya fokus pada pangan. Ia mendorong peremajaan perkebunan karet melalui Program Inti Rakyat (PIR) serta swasembada ternak potong di kawasan Imban.

Di bidang infrastruktur, ia merombak Kantor Gubernur Kalsel yang semula berupa bangunan kayu peninggalan kolonial di Jalan Jenderal Sudirman. Gedung baru berlantai tiga dengan arsitektur khas Banjar Bubungan Tinggi menjadi simbol modernisasi pemerintahan.

Tak hanya itu, Subardjo juga membentuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappemda) yang dipimpin Prof. Anwari Dilmy, Rektor Unlam kala itu.

Infrastruktur lain, Subardjo meresmikan sejumlah fasilitas publik, seperti Stadion 17 Mei (sebelumnya Stadion Mulawarman), Youth Centre Banjarmasin, Gedung Wanita Kayu Tangi, hingga Desa Pemuda Pelaihari.

Di tingkat nasional, ia mengukuhkan identitas Banua dengan membangun Anjungan Kalimantan Selatan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) lengkap dengan Rumah Banjar.

Meski disiplin militer, Subardjo dikenal bertangan dingin dalam seni budaya. Ia menginisiasi Pekan Kesenian Daerah (PKD) pada 1973. Ia mengangkat lagu-lagu Banjar seperti Ampar-Ampar Pisang dan Paris Barantai ke panggung nasional bahkan internasional. Kelompok paduan suara ibu-ibu Kalsel yang didukungnya berhasil meraih peringkat Harapan I di tingkat nasional. (she/mof)

Editor : Muhammad Rizky
#Dekade 1970–1980 #Gubernur Kalimantan Selatan pada tahun 1970 #anumerta #Tahulah Pian