Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Legenda Lu'uk Badangsanak, Menyimpan Kisah Tragedi di Kabupaten HSU

M Oscar Fraby • Rabu, 10 Juni 2026 | 11:18 WIB
MISTIS: Lu’uk Badangsanak, berada di Desa Palimbang Sari, dan Desa Lok Suga Kecamatan Haur Gading.
MISTIS: Lu’uk Badangsanak, berada di Desa Palimbang Sari, dan Desa Lok Suga Kecamatan Haur Gading.

 

TAHULAH PIAN. Hanya berjarak sekitar satu kilometer dari pusat Kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, terdapat sebuah lubuk tua yang hingga kini masih menyimpan kisah tragis sekaligus legenda yang hidup di tengah masyarakat Banjar.

Tempat itu dikenal dengan nama Lu’uk Badangsanak, berada di kawasan anak Desa Lok Suga, wilayah Desa Haur Gading, Kecamatan Amuntai Utara.
Dalam bahasa Banjar, lu’uk berarti lubuk, yakni bagian sungai yang dalam dan tidak pernah kering meski kemarau panjang melanda. Lu’uk Badangsanak terletak di aliran Sungai Palimbangan yang terhubung ke Sungai Pamintangan dan bermuara ke Sungai Tabalong.

Lokasinya pun berdekatan dengan kawasan bersejarah Negara Dipa atau Candi Agung, pusat kerajaan kuno di Kalimantan Selatan.

Legenda Lu’uk Badangsanak bermula pada masa kejayaan Kerajaan Negara Dipa. Konon, dua pemuda kembar bernama Bambang Sukmaraga dan Bambang Padmaraga, keponakan Patih Lambung Mangkurat, menjadi tokoh utama kisah ini.

Putri Junjung Buih, sosok penting dalam sejarah Banjar, dikisahkan menaruh hati kepada keduanya dan melemparkan bunga nagasari sebagai tanda kasih. Namun peristiwa itu justru memicu tragedi.

Demi menjaga kehormatan kerajaan, Lambung Mangkurat disebut rela mengorbankan darah dagingnya sendiri. Ia mengajak kedua keponakannya menjala ikan di Lu’uk Suga, tempat di mana keduanya kemudian dibunuh.
Menurut cerita rakyat, jasad Bambang Sukmaraga dan Bambang Padmaraga tenggelam ke dasar lubuk dan tidak pernah ditemukan. Dari kisah pilu itu lahirlah lagu daerah “Kasih Putus di Lu’uk Badangsanak” yang masih dikenal hingga kini.

Legenda ini melahirkan beragam mitos. Salah satunya menyebut kedua pemuda kembar tersebut tidak benar-benar meninggal, melainkan hidup di alam lain dan bereinkarnasi menjadi Raden Putra atau Pangeran Surianata dari Majapahit, yang kelak menjadi pendamping Putri Junjung Buih.

Kepala Desa Palimbang Sari, Badarudin, menuturkan bahwa sejak dahulu Lu’uk Badangsanak dikenal sebagai tempat angker. “Dulu kalau orang naik kapal lebih memilih untuk memutar jauh daripada harus melalui Lu’uk Badangsanak. Tapi sekarang seiring kemajuan zaman masyarakat juga sudah ramai bermukim, sehingga kesan angker mulai berkurang,” ujarnya, Selasa (9/6).

Kini, seiring perkembangan zaman, Lu’uk Badangsanak lebih dipandang sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah lisan masyarakat Banjar. Cerita yang diwariskan turun-temurun itu menjadi pengingat bahwa di balik tenangnya aliran sungai, tersimpan kisah cinta, pengorbanan, dan tragedi yang melegenda. (mar/mof)

Editor : Muhammad Rizky
#Legenda Lu'uk Badangsanak #Tahulah Pian