TAHULAH Pian. Nama sebuah desa sering kali lahir dari kondisi alam maupun tradisi masyarakat setempat. Demikian halnya dengan Desa Sungai Sahurai di Kecamatan Rantau Badauh, Kabupaten Barito Kuala. Penamaannya diambil dari sungai yang mengalir di wilayah tersebut.
Desa Sungai Sahurai membentang di sepanjang Jalan H. M. Yunus. Menurut Kepala Desa, Husaini, nama desa berasal dari Sungai Sahurai yang membelah jalan menuju Marabahan hingga ke Hulu Sungai, dengan muara bermuara di perairan Sungai Barito.
Di Rantau Badauh sendiri, banyak desa yang namanya mencerminkan kondisi wilayah atau aktivitas masyarakat. Misalnya Sungai Bamban dan Rumbia, yang dahulu dikenal karena banyak ditumbuhi tanaman bamban maupun rumbia.
Ada pula Sungai Pansuk, yang erat kaitannya dengan perajin bakul. “Pansuk itu bahasa Bakumpai, artinya bakul dalam bahasa Banjar. Jadi tepat saja dinamakan Sungai Pansuk karena memang dulu ada perajin bakul di sana,” jelas Husaini.
Namun berbeda dengan Sungai Sahurai, asal-usul nama “Sahurai” hingga kini masih belum diketahui secara pasti. “Nah kalau Sungai Sahurai, asal muasal namanya itu yang belum kita ketahui,” tambahnya.
Mayoritas masyarakat Desa Sungai Sahurai sejak dahulu menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Warga menanam padi, berkebun jeruk, serta berbagai jenis tanaman buah lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian warga mulai mengembangkan perkebunan kelapa sawit sebagai sumber penghasilan tambahan.
Husaini menegaskan bahwa sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi desa. “Masyarakat di sini kebanyakan bertani padi dan berkebun. Ada jeruk serta berbagai jenis buah-buahan lainnya. Sekarang juga mulai ada yang mengembangkan kebun sawit,” ujarnya.
Jumlah penduduk Desa Sungai Sahurai saat ini mencapai hampir 2.000 jiwa, tersebar di sekitar 600 kepala keluarga (KK). “Desa kami juga dikenal sebagai salah satu penghasil buah dan hasil pertanian di Kabupaten Barito Kuala,” katanya.
Editor : Muhammad Rizky