TAHULAH Pian. Kapal induk depot kapal selam milik Royal Navy Inggris, HMS Medway F25, bersama armada kapal selamnya tercatat pernah memasuki Sungai Barito dan bersandar di Pelabuhan Banjarmasin pada tahun 1938.
Arsip foto koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispersip) Kota Banjarmasin mengabadikan momen bersejarah ini, yang menegaskan posisi Kalimantan Selatan sebagai bagian dari jalur operasi maritim internasional menjelang Perang Dunia II.
Sejarawan Kalimantan Selatan, Mansyur, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut menunjukkan peran Banjarmasin dalam jaringan pelayaran strategis Asia Tenggara. “HMS Medway bukan kapal dagang, melainkan kapal depot kapal selam yang berfungsi sebagai pusat logistik, perawatan, persenjataan, dan akomodasi bagi armada kapal selam Inggris,” ungkap dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat itu.
HMS Medway dibangun oleh galangan Vickers di Barrow, Inggris, diluncurkan pada 19 Juli 1928, dan mulai berdinas pada 6 Juli 1929. Kapal sepanjang 176,8 meter dengan bobot 14.650 long tons ini mampu menampung lebih dari 1.300 personel tambahan selain 400 awak inti.
Kapal ini dirancang untuk mendukung hingga 18 kapal selam, Medway menjadi pusat operasional penting bagi Royal Navy di luar pangkalan utama.
Sejak awal, kapal ini ditugaskan mendukung 4th Submarine Flotilla di bawah komando China Station, wilayah operasi yang mencakup Asia Timur dan Asia Tenggara. Latihan serta pelayaran rutin dilakukan di Kepulauan Melayu, termasuk Hindia Belanda.
Di foto-foto arsip memperlihatkan HMS Medway bersandar bersama kapal selam di Sungai Barito, aktivitas awak di dek kapal, hingga pengamatan perahu layar di Muara Taboneo. “Taboneo merupakan titik labuh logis sebelum kapal besar memasuki jalur menuju Banjarmasin,” jelas Mansyur.
Kunjungan ini diperkirakan berlangsung antara Oktober–Desember 1938. Selain operasional, kunjungan juga bernuansa diplomasi. Harian Morning Tribune Singapura edisi 5 Oktober 1938 mencatat adanya jamuan resmi di atas HMS Medway bersama Captain Claud Barrington Barry, komandan kapal sekaligus pemimpin 4th Submarine Flotilla.
Menurut Mansyur, kehadiran armada kapal selam Inggris di Asia Tenggara pada akhir 1930-an terkait meningkatnya ancaman Jepang terhadap kepentingan Inggris di Pasifik. “Melalui kunjungan semacam ini, Inggris menunjukkan eksistensi dan pengaruhnya di kawasan menjelang Perang Dunia II,” katanya.
Perjalanan HMS Medway berakhir tragis pada 30 Juni 1942, ketika kapal ini tenggelam di Mediterania akibat torpedo kapal selam Jerman U-372. Sebanyak 30 awak hilang, meski sebagian persenjataan berhasil diselamatkan. Royal Navy kemudian menggantikan perannya dengan HMS Talbot yang diberi nama baru Medway II.
Bagi Mansyur, arsip kunjungan HMS Medway menjadi pengingat bahwa sejarah Kalimantan Selatan tidak terlepas dari dinamika global. “Peristiwa dunia ternyata meninggalkan jejak di Banjarmasin. Arsip ini membuktikan bahwa Banua pernah menjadi bagian dari panggung sejarah maritim internasional,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Rizky