TAHULAH Pian. Di Desa Durian Rabung, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, tersimpan kisah perjuangan seorang tokoh lokal yang ikut mengangkat senjata melawan penjajah Belanda pada masa Perang Banjar di abad ke-19.
Sosok itu adalah Datu H. Abul Hasan, yang berjuang bersama saudara iparnya, Datu Sahid, suami dari Diang Kabun, adik beliau. Dalam perjuangannya, Datu H. Abul Hasan bersama Datu Sahid, Datu Panglima Dambung, Datu Dulahmat, Datu Cancangan dan sejumlan pejuang lainnya berjumlah sembilan orang, berangkat menuju Kuin, Banjarmasin.
“Mereka menghadang para penjajah Belanda yang datang memasuki wilayah Kalimantan dari Desa Durian Rabung,” terang tokoh masyarakat setempat, Samhuri El-Adabi, Minggu (31/5).
Para pejuang berbekal senjata tradisional seperti parang dan tombak. Uniknya, senjata milik para datu tersebut konon bertuliskan lafaz Arab, seperti tahlil, syahadat, dan takbir. Kepercayaan masyarakat kala itu menyebut para pejuang memiliki kesaktian, termasuk kekebalan tubuh.
Dalam perjuangannya, Datu H. Abul Hasan bahkan dikisahkan pernah tertembak. Namun ia segera pulih dan kembali bertempur.
Pada serangan di Kuin itu, beberapa kali berhasil mengusir pasukan Belanda, meski mereka terus datang kembali. Akhirnya, para datu memutuskan bertahan di Benteng Madang, pusat perlawanan rakyat Banjar.
Dalam pertempuran di Benteng Madang, Datu Sahid dipercaya sebagai Panglima Perang, sementara Datu H. Abul Hasan menjadi wakilnya. Pertempuran sengit pun terjadi. Namun, Datu Sahid terkena tembakan meriam Belanda dan dibawa ke Padang Batung oleh Datu H. Abul Hasan.
Tak lama kemudian, Datu Sahid wafat, membuat perlawanan rakyat melemah. Benteng Madang akhirnya jatuh ke tangan Belanda. “Setelah itu tidak diketahui siapa yang melanjutkan perjuangan merebut kembali Benteng Madang,” ujar Samhuri.
Kabar mengenai wafatnya Datu H. Abul Hasan tidak tercatat jelas. Namun, beliau meninggalkan keturunan, di antaranya Datu Campa dan Datu Pancau, yang dikenal sebagai ulama kharismatik pada zamannya. Hingga kini, sebagian besar warga Desa Durian Rabung merupakan keturunan Datu H. Abul Hasan.
Sejarah perjuangan beliau memang belum banyak diangkat. Samhuri berharap kisah ini kelak tercatat resmi sebagai bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan. “Mereka jelas seorang pejuang, namun belum ada yang mengangkat. Semoga nantinya bisa tercatat sebagai pahlawan,” harapnya.
Untuk menghormati jasa beliau, pada tahun 1990-an nama Datu H. Abul Hasan diabadikan menjadi Yayasan Abul Hasan, yang menaungi Madrasah Ibtidaiyah, Taman Pendidikan Alquran, dan Madrasah Aliyah.
Kemudian pada tahun 2021, nama beliau kembali digunakan untuk Ruang Terbuka Hijau dan Taman Bermain Datu Abul Hasan di Desa Padang Batung, yang diresmikan langsung oleh Bupati H. Achmad Fikry
Editor : Arief