Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kisah Kerajaan Gaib di Pegunungan Meratus Kalimantan, Cermin Hubungan Masyarakat dengan Alam

M Fadlan Zakiri • Selasa, 26 Mei 2026 | 10:27 WIB
BERDAGANG: Aktivitas masyarakat Dayak Meratus yang menukar hasil kebun mereka dengan bahan dapur (Foto: HISTORIA.ID)
BERDAGANG: Aktivitas masyarakat Dayak Meratus yang menukar hasil kebun mereka dengan bahan dapur (Foto: HISTORIA.ID)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan bukan hanya bentang alam yang membelah wilayah, tetapi juga menyimpan kisah-kisah misterius yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Salah satu yang paling dikenal adalah mitos tentang kerajaan gaib yang diyakini bersemayam di puncak-puncaknya.

Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur, menilai kisah tersebut tidak bisa dilepaskan dari minimnya catatan sejarah tertulis mengenai kawasan Meratus, terutama pada masa kolonial. “Meratus ini termasuk wilayah yang relatif ‘sunyi’ dalam arsip kolonial. Bahkan penjelajah seperti Anton W. Nieuwenhuis tidak banyak mencatat kawasan ini,” ujarnya.

Nieuwenhuis, seorang etnografer Belanda yang melakukan ekspedisi besar di pedalaman Kalimantan pada akhir abad ke-19, dalam laporannya In Centraal Borneo: reis van Pontianak naar Samarinda 1898-1899, nyaris tidak menyebut nama Meratus. Kondisi ini membuat informasi sejarah tentang Meratus terbatas dan bercampur dengan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat.

Membentang sekitar 600 kilometer dari Kalimantan Selatan hingga perbatasan Kalimantan Tengah dan Timur, Pegunungan Meratus seolah menjadi ‘ruang kosong’ dalam arsip, tetapi justru penuh dalam ingatan kolektif masyarakat. “Ketika sumber tertulis minim, ruang itu biasanya diisi oleh tradisi lisan. Di situlah muncul kisah-kisah yang sifatnya simbolik, termasuk cerita tentang kerajaan gaib,” jelas Mansyur.

Dalam catatan kolonial yang terbatas, Meratus lebih sering dijelaskan secara geografis. Nama “Meratus” diyakini berasal dari Goenong Ratoes, yang berarti “seratus gunung”. Sebutan ini merujuk pada banyaknya puncak yang membentuk bentang pegunungan tersebut.

Namun di tingkat lokal, makna itu berkembang jauh melampaui sekadar hitungan. Ketiadaan catatan itu kemudian membuka ruang bagi berkembangnya cerita-cerita lisan di tengah masyarakat.

Salah satunya, kata Mansyur datang dari komunitas Suku Bukit yang sejak lama hidup di belantara Meratus. Bagi mereka, batas wilayah administratif seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, atau Kalimantan Timur bukanlah hal penting. Hutan adalah rumah, sekaligus ruang hidup yang menyatu dengan keseharian.

Ia mengungkap, salah satu kisah yang pernah dituturkan Amung Tahe, warga Dusun Rangit di kaki Pegunungan Meratus. Ia menceritakan pengalamannya menjelajahi kawasan tersebut secara turun-temurun.

Dalam penuturannya, Meratus diyakini terdiri dari seratus gunung. Namun, hanya 99 yang dapat dilihat. Sedangkan satu puncak lainnya disebut sebagai “induk” gunung, puncak tertinggi yang tidak selalu tampak secara kasat mata.

Untuk mencapainya harus melewati jalur bertingkat, tujuh belas tanjakan dan tujuh belas turunan. Di puncak itulah dipercaya berdiri kerajaan gaib yang dipimpin Maharaja Meratus. “Cerita ini adalah sebuah gambaran yang lebih menyerupai perjalanan spiritual ketimbang geografis,” kata Mansyur.

Dalam cerita lisan, kerajaan ini tidak berdiri sendiri. Ada pula kerajaan-kerajaan kecil lain yang dihuni makhluk halus atau bunian. Mereka diyakini hidup layaknya manusia, bahkan disebut kerap turun ke wilayah permukiman dengan menyaru sebagai warga biasa.

Dalam kisah yang berkembang, “orang-orang gaib” ini berdagang hasil hutan seperti gaharu, serta membawa batu mulia seperti kecubung dan yakut kualitas tinggi yang masih mentah. Barang barang itu mereka jual atau barter dengan tembakau, garam, minyak wangi-wangian, bahkan butir-butiran manik dan mutiara.

Cerita lain juga menyebut kekayaan alam Meratus yang melimpah, hingga ada yang mengaku menemukan bongkahan emas atau batu berharga di aliran sungai pegunungan. “Cerita-cerita semacam itu terus bertahan, meski tak pernah tercatat dalam dokumen resmi,” imbuhnya.

Mansyur menegaskan, dalam kajian sejarah, kisah tersebut tidak bisa diperlakukan sebagai fakta literal. Namun, bukan berarti harus diabaikan. “Itu bukan fakta sejarah dalam arti akademik. Tapi ia penting sebagai bagian dari cara masyarakat memahami ruang hidupnya,” tegasnya.

Menurutnya, mitos tentang kerajaan gaib seperti ini justru mencerminkan hubungan manusia dengan alam Meratus yang luas, liar, dan penuh ketidakpastian. Simbol “seratus gunung” pun, kata dia, lebih tepat dipahami sebagai representasi kebesaran lanskap, bukan angka pasti. “Meratus itu terlalu luas untuk dijelaskan secara sederhana. Mitos hadir sebagai cara menjelaskan yang tak terjangkau logika saat itu,” tambahnya

Hingga kini, Pegunungan Meratus tetap menjadi wilayah yang menyimpan banyak sisi yang belum sepenuhnya terungkap, baik dari aspek sejarah maupun kebudayaan. “Di tengah berkembangnya isu lingkungan seperti penambangan dan deforestasi, Meratus tetap menyimpan lapisan cerita antara fakta sejarah dan kepercayaan yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi,” pungkasnya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Budaya #kalimantan selatan #Sejarah #Dayak