RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Di balik hiruk pikuk modernisasi, Banjarmasin pernah menyimpan sebuah warisan industri tradisional yang kini hanya tersisa dalam ingatan. Tepatnya di Jalan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, berdiri sebuah kawasan yang dahulu dikenal sebagai Kampung Tajau.
Di sini pusat pembuatan wadah tradisional yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan. Nama Kampung Tajau bukan sekadar sebutan. Pada masa kejayaannya, warga Kuin Utara dikenal sebagai pengerajin tajau, atau wadah besar menyerupai guci tradisional yang digunakan untuk menyimpan air atau beras.
Berbeda dari guci keramik, tajau khas Banjarmasin dibuat dari campuran semen dan pasir putih, dibentuk manual dengan cetakan khusus.
Mantan pengerajin, Yasin (67) dan Talhah (63), mengenang masa keemasan produksi tajau sekitar tahun 1980-an. Saat itu, hampir setiap rumah di Kuin Utara menjadi sentra produksi. Seorang pengerajin mampu membuat hingga 10 tajau per hari, sehingga ratusan tajau bisa dikirim ke luar daerah menggunakan jalur transportasi air.
“Pesanan datang dari berbagai wilayah, seperti Tabunganen dan Marabahan di Barito Kuala. Pembelinya kebanyakan petani atau orang tua yang masih mengandalkan tajau sebagai tempat penyimpanan,” ujar Talhah, Minggu (24/5).
Seiring berjalannya waktu, permintaan tajau menurun drastis. Kehadiran wadah plastik yang lebih ringan, murah, dan praktis membuat tajau tradisional tersisih. Meski tajau memiliki keunggulan alami dalam menjaga kesegaran air, kelemahannya adalah berat, mudah bocor, dan pecah menjadi alasan masyarakat beralih.
Yasin menambahkan, usaha tajau tradisional tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah. Bantuan hanya sebatas bahan, tanpa ada upaya pelestarian atau promosi. Bekas lahan produksi kini beralih fungsi menjadi usaha lain atau sekadar memperluas rumah warga.
Puncak kemunduran terjadi saat pandemi Covid-19 tahun 2021. Rumah produksi terakhir di Kuin Utara terpaksa tutup, menandai berakhirnya era Kampung Tajau. “Sekarang tinggal nama saja. Anak muda pun enggan meneruskan karena dianggap tidak menjanjikan,” ungkap Yasin.
Editor : Arief