TAHULAH PIAN. Sekilas, Desa Tabanio di pesisir Kabupaten Tanah Laut (Tala) tampak seperti kampung nelayan biasa. Aktivitas warga berjalan rutin, seolah tanpa jejak masa lampau. Namun di balik kesederhanaannya, Tabanio menyimpan kisah besar yang pernah menghubungkan wilayah ini dengan sejarah Kesultanan Banjar.
Pada masa lampau, Tabanio dikenal sebagai kawasan strategis. Letaknya di pesisir menjadikannya jalur keluar masuk orang dan barang. Aktivitas perdagangan berkembang pesat, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu titik perdagangan paling ramai di Kalimantan pada zamannya.
“Dulu Tabanio ini sangat hidup. Banyak orang datang dan pergi, jadi pusat perdagangan juga,” tutur Ismail Fahmi, warga Pelaihari.
Peran Tabanio tidak berhenti pada urusan ekonomi. Kampung ini pernah menjadi tempat pelarian seorang putra mahkota, Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah. Setelah Sultan Hamidullah wafat pada 1734, tahta dipegang oleh Pangeran Tamjidillah I.
Aminullah yang masih kecil kala itu tersisih dari hak warisnya. Namun ketika dewasa, ia melarikan diri ke Tabanio untuk menyusun kekuatan merebut kembali haknya sebagai pewaris sah kerajaan. “Di sinilah dia mengumpulkan pengikut. Tabanio jadi semacam titik awal perjuangannya,” ujarnya.
Memanfaatkan jalur laut, Aminullah membangun armada dan mengganggu jalur perdagangan sebagai strategi melemahkan lawan. Keberadaannya di Tabanio menarik perhatian Belanda. VOC melihat peluang dari konflik internal dan menjalin hubungan dengan kedua pihak (Aminullah maupun Tamjidillah I) sebagai bagian dari politik adu domba.
Ketika merasa cukup kuat, Aminullah bergerak dari Tabanio menuju Martapura. Ia datang dengan armada perahu dan pengikutnya. Situasi sempat memanas, namun konflik besar berhasil dihindari setelah Tamjidillah I menyerahkan tahta.
Aminullah pun naik menjadi sultan, meski masa pemerintahannya hanya bertahan sekitar tiga tahun. Ia dikenal tegas terhadap Belanda dan lebih mengutamakan kepentingan kerajaan.
Pada tahun 1761, Aminullah wafat. Sejumlah cerita menyebut kematiannya tidak wajar dan diduga akibat racun, bagian dari intrik politik yang belum sepenuhnya terungkap. Sejak itu, Tabanio kembali menjadi kampung pesisir biasa, meski jejak sejarahnya tetap hidup dalam ingatan masyarakat. “Sekarang mungkin terlihat biasa saja, tapi Tabanio ini punya sejarah besar. Dari sini pernah lahir peristiwa penting bagi Banjar,” pungkasnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief