Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Lontara Kapitan La Mattone, Manuskrip Kuno Jejak Sejarah Kerajaan Pagatan di Tanah Bumbu

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Rabu, 20 Mei 2026 | 09:22 WIB
JEJAK SEJARAH: Andi Satria Jaya memperlihatkan manuskrip kuno peninggalan Kerajaan Pagatan di Desa Kampung Baru, Kusan Hilir, Tanah Bumbu. (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)
JEJAK SEJARAH: Andi Satria Jaya memperlihatkan manuskrip kuno peninggalan Kerajaan Pagatan di Desa Kampung Baru, Kusan Hilir, Tanah Bumbu. (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Jejak sejarah Kerajaan Pagatan masih terawat rapi di Desa Kampung Baru, Kecamatan Kusan Hilir. Manuskrip kuno, stempel kerajaan, hingga foto-foto para raja menjadi saksi penting keberadaan kerajaan yang erat kaitannya dengan masyarakat Bugis di pesisir selatan Kalimantan.

Benda-benda bersejarah tersebut kini dirawat oleh Andi Satria Jaya, cicit dari Arung Abdul Rahim, raja terakhir Pagatan yang memerintah pada akhir abad ke-19. Selain sebagai pewaris keluarga kerajaan, Andi Jaya juga menjabat Kepala Desa Kampung Baru.

Di ruang tamu rumahnya, tergantung deretan foto para raja Pagatan. Sebagian foto merupakan peninggalan Belanda. Rumah tamu itu dulunya bagian dari dapur istana yang langsung menghadap laut, menjadi penghubung antara kehidupan kerajaan dan aktivitas masyarakat pesisir.

Selain foto, tersimpan pula beragam stempel kerajaan dengan bentuk dan bahan berbeda, mulai dari batu ukir, logam, hingga perak berpegangan kayu. Beberapa stempel ditemukan saat penggalian tanah di sekitar rumah keluarga.

Di antara seluruh koleksi, manuskrip Lontara Pagatan menjadi peninggalan paling berharga. Naskah ini juga dikenal sebagai Lontara Kapitan La Mattone, disusun dalam tiga bundel dan disimpan dalam wadah pelindung. “Awalnya ini satu rangkaian. Dipisah supaya lebih mudah dibaca dan diteliti,” jelas Andi Jaya.

Ia mengaku belum mampu memahami seluruh isi naskah karena ditulis dengan aksara dan bahasa lama yang rumit. “Kalau membaca harus sambil membuka kamus. Untuk memahami isinya memang perlu bantuan ahli,” tambahnya.

Naskah tersebut ditulis oleh La Mattone, seorang menteri Kerajaan Pagatan. Catatannya memuat berbagai peristiwa penting antara tahun 1858 hingga 1911, mulai dari kondisi banjir, keadaan laut, wilayah tangkapan ikan, hingga kabar kematian warga.

Isi manuskrip menggunakan perpaduan aksara Lontara sebagai tulisan utama, Ugi Serang untuk penanggalan dan catatan astrologi (Lontara Kutika), serta huruf Latin. Meski berusia lebih dari satu abad dan sempat mengalami kerusakan, lembaran naskah kini dilapisi plastik pelindung agar tidak mudah rapuh. “Sebelumnya kalau membuka harus memakai kayu atau penggaris supaya tidak sobek,” kenangnya.

Keluarganya pernah mendengar adanya naskah Lontara lain yang hingga kini keberadaanya belum ditemukan. Jika kelak berhasil ditemukan, naskah tersebut diyakini dapat mengungkap kisah awal berdirinya Kerajaan Pagatan, termasuk sejarah raja pertamanya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Kerajaan Pagatan #kalimantan selatan #Tanah Bumbu #Literasi #Sejarah