RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BATULICIN – Jejak kejayaan Kerajaan Pagatan masih tersimpan di sebuah rumah tua di Desa Kampung Baru, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu. Manuskrip kuno, stempel kerajaan, hingga foto-foto para raja menjadi saksi bisu sejarah kerajaan pesisir yang erat kaitannya dengan masyarakat Bugis di Kalimantan Selatan.
Seluruh benda bersejarah itu kini dirawat Andi Satria Jaya, keturunan langsung Raja Pagatan terakhir, Arung Abdul Rahim, yang memerintah pada akhir abad ke-19. Selain sebagai pewaris keluarga kerajaan, Andi Jaya juga menjabat sebagai Kepala Desa Kampung Baru.
Di ruang tamu rumahnya, terpajang deretan foto para raja Pagatan. Sebagian di antaranya merupakan peninggalan era Belanda. Rumah tersebut dulunya menjadi bagian dapur Istana Kerajaan Pagatan yang menghadap langsung ke laut.
Tak hanya foto, berbagai stempel kerajaan juga masih tersimpan rapi. Bentuk dan bahannya beragam, mulai dari batu ukir, logam, hingga perak dengan pegangan kayu. Beberapa stempel bahkan ditemukan saat penggalian tanah di sekitar rumah keluarga kerajaan.
Namun, peninggalan paling berharga adalah manuskrip Lontara Pagatan atau dikenal sebagai Lontara Kapitan La Mattone. Naskah kuno itu disusun dalam tiga bundel dan kini disimpan dalam wadah pelindung agar tetap terjaga.
“Awalnya ini satu rangkaian. Dipisah supaya lebih mudah dibaca dan diteliti,” ujar Andi Jaya.
Ia mengaku belum mampu memahami seluruh isi manuskrip karena menggunakan aksara dan bahasa lama yang rumit.
“Kalau membaca harus sambil membuka kamus. Untuk memahami isinya memang perlu bantuan ahli,” katanya.
Naskah tersebut ditulis La Mattone, yang disebut sebagai menteri Kerajaan Pagatan. Isinya mencatat berbagai peristiwa penting antara tahun 1858 hingga 1911, mulai dari banjir, kondisi laut, wilayah tangkapan ikan, hingga kabar kematian warga.
Menariknya, manuskrip itu menggunakan perpaduan aksara Lontara, Ugi Serang untuk penanggalan dan astrologi atau Lontara Kutika, serta huruf Latin.
Meski usianya telah lebih dari satu abad dan sempat mengalami kerusakan, lembaran manuskrip kini dilapisi plastik pelindung agar tidak mudah rapuh.
“Sebelumnya kalau membuka harus memakai kayu atau penggaris supaya tidak sobek,” kenang Andi Jaya.
Keluarga kerajaan juga meyakini masih ada naskah Lontara lain yang hingga kini belum ditemukan. Jika kelak ditemukan, manuskrip tersebut diyakini dapat mengungkap sejarah awal berdirinya Kerajaan Pagatan dan kisah raja pertamanya.
Editor : Eddy Hardiyanto