Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Yuda Lalana: Kisah Heroik Ulama Pemimpin Gerakan Baratib Baamal, Melawan Belanda di Wilayah Barabai

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Selasa, 19 Mei 2026 | 07:11 WIB
BERSEJARAH: Masjid Al-A
BERSEJARAH: Masjid Al-A'la di Desa Jatuh menjadi tempat menyusun strategi gerakan Baratib Baamal yang dipimpin Yuda Lalana dalam melawan Belanda. (Jamaluddin/Radar Banjarmasin).

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Yuda Lalana, nama ini cukup familiar bagi masyarakat Hulu Sungai Tengah (HST). Tapi, dibalik nama itu tersimpan kisah heroik seorang ulama sekaligus pejuang Banua. Konon, ia pernah memimpin perlawanan rakyat melawan penjajahan Belanda dalam rangkaian Perang Banjar di wilayah Barabai.

Wakil Ketua Dewan Kesenian Kabupaten HST, Masruswian mengatakan, Yuda Lalana dikenal sebagai ulama sekaligus pemimpin Gerakan Baratib Baamal yang bermarkas di wilayah Jatoh atau sekarang dikenal sebagai Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan.

Menyusun strategi perang melawan Belanda, gerakan ini memanfaatkan sebuah masjid yang kini dinamakan Masjid Al-A'la di desa tersebut. Masjid ini juga dikenal sebagai salah satu tempat ibadah tertua di Kalimantan Selatan.

Dalam sejarah Perang Banjar tahun 1859-1905, Yuda Lalana memimpin perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda di wilayah Barabai. Gerakan Baratib Baamal sendiri merupakan gerakan perang sabil yang menggabungkan kekuatan spiritual, zikir dan perjuangan rakyat dalam mempertahankan agama serta tanah Banua.

Penghulu Muda Yuda Lalana dikenal selalu mengenakan jubah kuning dan serban putih, sedangkan para pengikutnya memakai jubah putih saat bergerak melawan pasukan Belanda.

Salah satu pertempuran besar terjadi pada 5 Desember 1861 saat pasukan Belanda di bawah pimpinan Van der Heyden dan Koch menyerbu wilayah Jatoh, setelah mendapat informasi tentang Gerakan Baratib Baamal.

Saat pasukan Belanda tiba, mereka langsung disambut serangan mendadak dari pasukan Penghulu Muda Yuda Lalana yang keluar dari semak-semak kebun lada sambil meneriakkan zikir “Allahu Akbar”. Pertempuran berlangsung sengit. Dalam catatan sejarah, Koch tewas setelah terkena tombak dan keris Penghulu Muda Yuda Lalana saat berusaha melindungi Van der Heyden.

Pertempuran kembali terjadi pada 26 Desember 1861 dan menewaskan opsir Belanda Van Haldren. Sejak saat itu, Gerakan Baratib Baamal semakin dikenal dan berkembang di sejumlah wilayah Banua seperti Amuntai, Balangan hingga Tabalong.

Kini, nama Penghulu Muda Yuda Lalana diabadikan menjadi nama aula di HST pada tahun 2024 sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan dan jasanya bagi Banua Murakata.

Masruswian mengatakan, penamaan aula itu berawal dari gagasan Kepala Dinas Pendidikan HST, Muhammad Anhar yang ingin ruang publik pemerintahan memiliki nilai historis dan edukatif.

Menurutnya, Dinas Pendidikan kemudian melakukan inventarisasi dan kajian terhadap sejumlah tokoh perjuangan daerah yang dinilai memiliki kontribusi besar bagi Banua. Dari hasil penelusuran sejarah, dipilih nama Penghulu Muda Yuda Lalana untuk diabadikan menjadi nama aula. “Penamaan aula dengan nama tokoh pejuang daerah bukan sekadar bentuk penghormatan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran sejarah bagi masyarakat dan generasi muda,” ujarnya.

Penamaan Aula Yuda Lalana juga menjadi simbol bahwa dunia pendidikan di HST tetap menghargai sejarah dan perjuangan para pendahulu daerah.

Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya mengenal nama aula tersebut, tetapi juga memahami sejarah perjuangan Yuda Lalana. “Harapannya, sejarah Yuda Lalana tetap dikenal masyarakat HST dan bisa menjadi teladan bagi generasi muda tentang semangat perjuangan dan kecintaan terhadap Banua,” tutupnya. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#belanda #hulu sungai tengah #kalimantan selatan #sejarah banjar