Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Desa Piyait: Saksi Bisu Sejarah Perjuangan Rakyat Kalimantan, Dulunya Dipenuhi Semak Berduri

M Dirga • Kamis, 14 Mei 2026 | 08:35 WIB
SIMPAN SEJARAH: Kantor Desa Piyait yang menjadi pusat administrasi bagi masyarakat setempat.
SIMPAN SEJARAH: Kantor Desa Piyait yang menjadi pusat administrasi bagi masyarakat setempat.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Di Kecamatan Awayan, Balangan, ada sebuah desa bernama Piyait. Desa ini memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan masa perjuangan rakyat Kalimantan. Desa yang berlokasi sekitar lima kilometer dari pusat kecamatan ini menyimpan memori tentang kondisi alam liar yang menjadi saksi bisu pergerakan para pejuang masa lampau.

Secara administratif, Desa Piyait memiliki luas 9,50 kilometer persegi dengan empat rukun tetangga. Kehidupan masyarakatnya heterogen, mencakup sektor pertanian, perkebunan, hingga peternakan ikan dan ayam potong. Letaknya strategis, berbatasan dengan Desa Sikontan, Ambakiyang, Tundakan, dan Badalungga.

Dalam catatan sejarah, Piyait memiliki peran penting sebagai jalur pergerakan pejuang. Saat Benteng Tundakan menjadi basis pertahanan Tumenggung Jalil, wilayah Piyait menjadi rute vital yang dilintasi pasukan. Tidak hanya sebagai prajurit, penduduk setempat kala itu turut berperan sebagai kurir pembawa berita rahasia dan pengantar logistik menuju benteng pertahanan.

Pamong Budaya Disdikbud Balangan, Halianur menjelaskan bahwa tantangan terbesar bukan hanya patroli musuh, melainkan kondisi alam liar. “Dahulu wilayah ini dipenuhi semak berduri. Jalan setapak yang dilewati para pejuang pun tertutup belukar. Siapa pun yang lewat pasti pakaian atau kulitnya tersangkut duri,” ungkapnya.

Kondisi medan yang penuh duri melahirkan istilah takait, merujuk pada pakaian atau tubuh yang tersangkut semak. Seiring waktu, lidah masyarakat menyebutnya Piyait. Nama itu kemudian dipatenkan sebagai identitas desa, menjadi pengingat akan beratnya perjuangan demi mempertahankan kedaulatan Banua.

Menariknya, istilah takait berkembang menjadi mitos sosial yang masih hidup hingga kini. Konon, pemuda atau pemudi dari luar desa yang datang tanpa pasangan dipercaya akan “takait” atau berjodoh dengan warga setempat.

“Menurut mitos masyarakat setempat, jika ada pemuda atau pemudi dari desa lain yang datang dalam kondisi belum memiliki pasangan, mereka dipercaya bisa takait atau berjodoh dengan penduduk di sana,” tambahnya.

Semak berduri yang dahulu menyulitkan langkah pejuang telah berganti dengan hamparan perkebunan dan tambak ikan. Ekonomi warga bertumpu pada sektor ini, menjadikan Piyait sebagai desa yang dinamis.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#kalimantan selatan #Balangan #Desa #Sejarah Banua